Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menanti 'Durian Runtuh' Produksi Migas 2026 dari 9 Proyek Strategis

Menanti 'Durian Runtuh' Produksi Migas 2026 dari 9 Proyek Strategis Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan sembilan proyek strategis hulu migas mulai beroperasi pada 2026, guna menopang target produksi minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari (barrel oil per day/BOPD) dalam APBN 2026.

Berdasarkan paparan SKK Migas, total investasi (capital expenditure/capex) untuk sembilan proyek tersebut mencapai sekitar US$ 216 juta.

Secara agregat, proyek-proyek tersebut diproyeksikan menambah kapasitas fasilitas produksi sebesar 8.457 BOPD minyak, serta 599 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas bumi.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, percepatan onstream proyek menjadi strategi utama untuk menjaga tren produksi migas nasional, yang saat ini menghadapi tantangan penurunan alami lapangan eksisting.

“Kami berkomitmen meningkatkan produksi dari bulan ke bulan."

"Proyeksi produksi 2026 akan ditopang proyek-proyek kunci, termasuk penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR) dan pengembangan lapangan gas baru,” ujar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Rabu (8/4/2026).

Peta Jalan Produksi

Merujuk peta jalan proyek strategis 2026, pengembangan Lapangan Maha yang dikelola ENI di wilayah West Ganal, menjadi salah satu tulang punggung produksi gas nasional.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026, dengan kapasitas puncak sekitar 210 MMSCFD, dan tambahan pasokan hingga tiga kargo LNG.

Sedangkan di sektor minyak, proyek Area Minas Polimer-D yang dikelola Pertamina Hulu Rokan (PHR) dijadwalkan mulai berproduksi pada Desember 2026, dengan target produksi puncak sekitar 1.212 BOPD.

Proyek ini menggunakan teknologi polimer sebagai bagian dari strategi enhanced oil recovery (EOR), untuk meningkatkan produksi lapangan tua.

Selain itu, proyek OO-OX yang dikelola PHE Offshore North West Java (ONWJ) juga ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2026, dengan tambahan produksi sekitar 2.996 BOPD.

“Untuk proyek gas, kami juga mengintegrasikannya dengan hilirisasi LPG domestik untuk mendukung target swasembada energi pemerintah,” tambahnya.

Sejumlah proyek strategis juga disiapkan untuk memperkuat pasokan domestik, di antaranya Senoro Selatan Tahap 1 dengan potensi produksi 110 MMSCFD, serta proyek Kompresor Suban dengan tambahan produksi 118 MMSCFD.

Djoko menegaskan, tambahan produksi dari proyek-proyek tersebut akan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi nasional secara keseluruhan.

“Total keseluruhan di tahun ini kita bisa meningkatkan produksi tambahan tahun, average per tahun 5.256 barel oil per day hari, gasnya 227 MMSCFD,” ungkap Djoko.

Seiring masuknya tambahan produksi tersebut, SKK Migas juga mencatat tren produksi migas nasional mulai menunjukkan perbaikan sejak awal tahun.

Hal ini menjadi sinyal positif bagi pencapaian target produksi tahun ini.

“Untuk realisasinya sampai dengan Maret, alhamdulillah dari Januari sampai dengan Maret cenderung meningkat."

"Kita berusaha untuk menaikkan produksi dari bulan ke bulan sampai akhir tahun, insyaallah rata-rata bisa mencapai target APBN,” ujar Djoko.

Berikut ini detail 9 proyek strategis hulu migas 2026 berdasarkan paparan resmi SKK Migas;

1. Fasprod Sidingin North-1 — Pertamina Hulu Rokan

Kapasitas: 325 bopd
Peak produksi: 325 bopd
Onstream: April 2026
Annual average (plan): 63 bopd
Annual average (outlook): 21 bopd

2. Polymer Minas Area D — Pertamina Hulu Rokan

Kapasitas: 1.212 bopd
Peak produksi: 1.212 bopd
Onstream: Juli 2026
Annual average (plan): 746 bopd
Annual average (outlook): 497 bopd

3. Sisi Nubi AOI 1,3,5 Tahap II — Pertamina Hulu Mahakam

Kapasitas: 180 MMSCFD
Peak produksi: 120 MMSCFD
Onstream: Maret 2026
Annual average (plan): 269 bopd & 56 MMSCFD
Annual average (outlook): 269 bopd & 56 MMSCFD

4. Maha — ENI West Ganal Ltd

Kapasitas: 210 MMSCFD
Peak produksi: 210 MMSCFD
Onstream: Q4 2026
Annual average (plan): 36 MMSCFD
Annual average (outlook): 36 MMSCFD

5. NSD Niar — EMP Bentu Ltd

Kapasitas: 90 bopd & 20 MMSCFD
Peak produksi: 90 bopd & 20 MMSCFD
Onstream: Mei 2026
Annual average (plan): 67 bopd & 12 MMSCFD
Annual average (outlook): 60 bopd & 11 MMSCFD

6. Upgrading Puspa Asri — Pertamina EP

Kapasitas: 1.034 bopd
Peak produksi: 1.034 bopd
Onstream: November 2026
Annual average (plan): 151 bopd
Annual average (outlook): 151 bopd

7. Suban Compressor Clustering — Medco EP Grissik

Kapasitas: 118 MMSCFD
Peak produksi: 118 MMSCFD
Onstream: Juli 2026
Annual average (plan): 16 MMSCFD
Annual average (outlook): 16 MMSCFD

Baca Juga: Krisis Energi Global, Perusahaan Migas Diminta Pulangkan Produksi Minyak untuk Amankan BBM

8. OO-OX — PHE ONWJ

Kapasitas: 2.996 bopd & 21,3 MMSCFD
Peak produksi: 2.996 bopd & 21,3 MMSCFD
Onstream: Januari 2026
Annual average (plan): 1.749 bopd & 14 MMSCFD
Annual average (outlook): 1.360 bopd & 11 MMSCFD

9. Senoro Selatan Tahap II — Medco E&P Tomori

Kapasitas: 110 MMSCFD & 2.800 bcpd
Peak produksi: 110 MMSCFD & 2.800 bcpd
Onstream: Juni 2026
Annual average (plan): 92 MMSCFD & 2.212 bcpd
Annual average (outlook): 92 MMSCFD & 1.327 bcpd. (*)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus