Kredit Foto: BPMI setpres
Selain itu, aspek likuiditas juga diperkuat melalui pengaturan free float di atas 15% dengan tahapan implementasi yang jelas. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan kualitas pasar dan daya tarik bagi investor global.
“Seluruh hal-hal yang menjadi concern dari global investor terkait dengan transparansi dari pasar modal Indonesia sudah kita sampaikan,” ujarnya.
OJK juga mencermati bahwa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai mencerminkan kondisi fundamental, sejalan dengan indeks utama seperti LQ45 dan IDX30. Kondisi ini menunjukkan pergeseran dinamika pasar ke arah yang lebih berbasis kinerja emiten.
Ke depan, Friderica memperkirakan akan terjadi penyesuaian pasar seiring agenda rebalancing indeks MSCI pada Maret serta pengumuman lanjutan pada Mei dan Juni 2026. Namun, ia menilai dampak tersebut bersifat sementara sebagai konsekuensi dari proses perbaikan struktural.
“Ini adalah dampak temporari dari perbaikan yang kita lakukan, seperti sort of pain, tapi harapannya ke depan akan semakin baik secara fundamental,” katanya.
Di tengah tekanan eksternal, OJK juga mendorong penguatan investor domestik sebagai penopang stabilitas pasar. Dalam satu tahun terakhir, jumlah investor pasar modal meningkat sekitar 5 juta single investor identification (SID), mencerminkan pendalaman pasar yang terus berlangsung.
Menurut Friderica, peningkatan partisipasi investor domestik menjadi kunci untuk meredam volatilitas akibat gejolak global, sekaligus memperkuat ketahanan pasar keuangan nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: