IHSG Longsor, Rupiah Melemah: Omongan Prabowo dan Serangan Media Asing Jadi Sorotan
Kredit Foto: YouTube Sekretariat Presiden
Jagat maya tengah menyoroti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
IHSG hari ini merosot tajam sebesar 3,76% ke level 6.470,34 pada penutupan sesi I, sementara rupiah melemah hingga tembus Rp17.671 per dolar AS.
Seorang netizen dengan akun X @abulmuzaffar10 menilai kondisi tersebut dipicu sentimen negatif pasar imbas pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut orang desa tidak memakai dolar. Selain itu, ia juga menyinggung kritik media internasional terhadap kepemimpinan Prabowo.
“Sepertinya ini bisa jadi efek dari omongan ‘rAkyAt DeSA gA pEgAng DoLLaR kOK’. Plus serangan dari anteck-anteck asing seperti The Economist, Nikkei Asia dkk. Kita lihat hari ini apakah ini disengaja untuk aksi serok, atau emang akan terus berlangsung dan melemah,” ucap Abul Muzaffar, dikutip Senin (18/5).
Netizen lain pun merasa pernyataan seorang pemimpin negara sangat berdampak besar bagi kelangsungan investasi di Indonesia.
“Ini dampaknya ya, dikira asal ngomong seorang kepala negara itu biasa saja. Tapi pasar mengartikan, pimpinan negara saja ga ngerti ekonomi, ga tau apa yang harus dilakukan. Jadi mereka pilih cabut investasinya,” tulis akun @zamet_9110.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebut bahwa masyarakat di desa tidak banyak menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pernyataan tersebut disampaikan saat meresmikan Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026), sebagai tanggapan atas tudingan sejumlah pihak yang menilai pelemahan rupiah terhadap dolar berpotensi menimbulkan krisis.
"Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok," ungkapnya.
Baca Juga: IHSG Longsor, Dolar Naik: Prabowo Disebut Adu Domba Desa vs Kota
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Serahkan Rafale hingga Radar Baru untuk Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Sementara itu, majalah asal Inggris, The Economist, menilai Prabowo sebagai pemimpin “berkulit tipis” yang tidak siap mendengarkan kebenaran pahit.
“Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths (Terlalu banyak hal di Indonesia bergantung pada seorang mantan jenderal yang berkulit tipis dengan rekam jejak hak asasi manusia yang meragukan. Prabowo Subianto perlu mendengar beberapa kebenaran yang tidak menyenangkan),” tulis The Economist, dikutip Senin (18/5).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya