Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Daftar Negara yang Minat KF-21 Selain Indonesia: Filipina hingga Polandia

Daftar Negara yang Minat KF-21 Selain Indonesia: Filipina hingga Polandia Kredit Foto: Gemini/Wahyu Pratama
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jet tempur KF-21 Boramae yang awalnya identik dengan proyek bersama Indonesia kini justru memasuki fase baru sebagai komoditas global yang diperebutkan banyak negara. Situasi ini menandai pergeseran penting: dari proyek bilateral menjadi arena kompetisi internasional.

Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah negara yang mulai melirik KF-21 sebagai opsi penguatan militer mereka. Ketertarikan ini tidak lagi terbatas di Asia Tenggara, tetapi sudah merambah Eropa hingga Timur Tengah.

Laporan dari Korea JoongAng Daily menyebut beberapa negara kini aktif menjajaki kemungkinan pembelian jet tempur generasi 4.5 tersebut. Di saat yang sama, muncul tantangan baru berupa dilema transfer teknologi yang bisa mempengaruhi arah ekspor KF-21.

Filipina menjadi salah satu kandidat paling serius dalam daftar peminat tersebut. Negara ini melihat KF-21 sebagai bagian dari strategi memperkuat daya tangkal terhadap tekanan militer China di kawasan.

Hubungan pertahanan antara Manila dan Seoul yang sudah terbangun lewat penggunaan FA-50 memperbesar peluang kerja sama ini. Bahkan, ada indikasi kebutuhan Filipina bisa mencapai belasan hingga puluhan unit untuk memperkuat armada udaranya.

Di Eropa, Polandia muncul sebagai pemain yang tak kalah agresif dalam memburu KF-21. Negara anggota NATO itu bahkan sudah melangkah lebih jauh dengan melakukan uji coba langsung terhadap jet tempur tersebut.

Ketertarikan Polandia tidak hanya berhenti pada pembelian, tetapi juga menyasar integrasi industri pertahanan domestik. Pola ini mirip dengan kerja sama mereka sebelumnya dalam pengadaan tank K2 dan pesawat FA-50 dari Korea Selatan.

Sementara itu, Uni Emirat Arab mulai melirik KF-21 setelah rencana pembelian F-35 dari Amerika Serikat menghadapi berbagai hambatan politik. Kondisi ini membuka ruang bagi Korea Selatan untuk masuk sebagai alternatif pemasok teknologi militer.

UAE tertarik pada peluang produksi lokal dan pengembangan bersama yang ditawarkan dalam proyek KF-21. Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel dibandingkan pembelian jet tempur dari Barat yang biasanya disertai banyak pembatasan.

Arab Saudi juga ikut masuk dalam radar sebagai calon pembeli potensial. Ketertarikan ini tidak lepas dari ambisi besar dalam program Vision 2030 yang menekankan kemandirian industri pertahanan.

Kunjungan pejabat militer Saudi ke fasilitas produksi Korea Aerospace Industries menunjukkan bahwa pembicaraan tidak lagi berada di tahap wacana. Ada indikasi bahwa kerja sama bisa berkembang ke arah produksi atau transfer teknologi.

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia mulai disebut sebagai pasar potensial berikutnya meski belum masuk daftar resmi. Negara ini dinilai memiliki kebutuhan modernisasi militer yang sejalan dengan posisi KF-21 di pasar global.

Jika tren ini berlanjut, maka Asia Tenggara bisa menjadi salah satu medan persaingan baru bagi jet tempur generasi menengah. Hal ini tentu akan berdampak langsung pada posisi Indonesia sebagai mitra awal proyek tersebut.

Di balik meningkatnya minat global, Korea Selatan menghadapi dilema besar terkait transfer teknologi. Semakin banyak negara yang ingin terlibat, semakin kompleks pula keputusan yang harus diambil terkait akses teknologi sensitif.

Situasi ini membuat ekspor KF-21 tidak sekadar soal penjualan, tetapi juga negosiasi strategis jangka panjang. Korea harus menyeimbangkan antara ekspansi pasar dan perlindungan teknologi militernya.

Baca Juga: KF-21 vs Su-35: Dua Pilihan Jet Tempur, Indonesia Mengarah ke Mana?

Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi membuka peluang kerja sama lebih luas, tetapi di sisi lain mengurangi eksklusivitas posisi sebagai mitra utama.

KF-21 kini tidak lagi sekadar proyek bersama, melainkan telah berubah menjadi simbol persaingan geopolitik baru di industri pertahanan global. Dan di tengah perebutan itu, posisi setiap negara—termasuk Indonesia—akan sangat ditentukan oleh strategi yang diambil ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama

Tag Terkait: