Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.653, Pasar Respons Positif Pidato Prabowo dan Kenaikan Suku Bunga

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.653, Pasar Respons Positif Pidato Prabowo dan Kenaikan Suku Bunga Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.653 pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Mata uang Garuda menguat 52 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.703 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pasar merespon positif atas pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% pada 2027. 

"Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menargetkan inflasi di kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen," kata Ibrahim kepada wartawan.

Dari sisi nilai tukar, rupiah ditargetkan berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, suku bunga SBN 10 tahun 6,5-7,3 persen. Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diasumsikan US$70-US$90 per barel. 

Adapun lifting minyak mentah 602 ribu barel per hari hingga 615 ribu barel per hari dan lifting gas bumi 934 ribu barel setara minyak per hari hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.

Terkait APBN, tahun depan pemerintah turut menargetkan pendapatan negara di kisaran 11,82 hingga 12,40% dari PDB, belanja negara 13,62 hingga 14,80% dari PDB, dan defisit dijaga di kisaran 1,8 hingga 2,4% dari PDB.

Baca Juga: Target Pertumbuhan Ekonomi 6,5% di 2027, Purbaya: Peluangnya Besar Sekali

Baca Juga: Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen di 2027

Penguatan rupiah, lanjut Ibrahim, juga disebabkan oleh keputusan Bank Indonesi menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 50 basis poin ke level 5,25%. Suku bunga Deposit Facility sebesar 4,25% dan Lending Facility sebesar 6.25%. Keputusan ini mengakhiri kebijakan BI menahan suku bunga selama 8 bulan beruntun.

Keputusan ini, menurut BI, dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5±1%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: