Kredit Foto: Antara/ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi
Inflasi tahunan Kepulauan Riau (Kepri) pada Mei 2026 mencapai 3,92 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 3,06 persen. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 3,08 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kepri menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi keempat di Sumatra setelah Aceh, Sumatra Utara, dan Riau.
Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi Kepri pada Mei 2026 tercatat 0,38 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,43 persen.
Seluruh daerah penyusun Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kepri mengalami kenaikan harga. Kota Batam mencatat inflasi 0,33 persen (mtm), Kota Tanjungpinang 0,59 persen, dan Kabupaten Karimun tertinggi sebesar 0,63 persen.
Kenaikan inflasi terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 1,27 persen (mtm) dengan andil 0,37 persen. Komoditas hortikultura seperti cabai merah, tomat, sawi hijau, dan ketimun menjadi penyumbang utama kenaikan harga seiring berakhirnya masa panen di sejumlah daerah sentra produksi di Sumatra bagian utara.
Selain itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 0,25 persen (mtm) dengan andil 0,03 persen, dipengaruhi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Di sisi lain, penurunan harga emas perhiasan menahan laju inflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 1,35 persen (mtm) dengan andil deflasi 0,10 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah stabilisasi harga dan pasokan pangan.
"Bank Indonesia bersama TPID se-Kepri terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Berbagai program stabilisasi harga dan penguatan ketahanan pangan terus dilakukan agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga," ujar Rony dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Inflasi Medis dan Kurs Dorong Klaim Asuransi Jiwa Membesar
Baca Juga: Harga Cabai hingga Daging Sapi Naik, Inflasi Jabar Naik Jadi 0,24%
Menurut Rony, sejumlah risiko inflasi masih perlu diwaspadai, antara lain potensi gangguan produksi pangan akibat fenomena El Nino, kenaikan harga energi global, serta berakhirnya musim panen di sejumlah daerah sentra hortikultura.
Meski demikian, Bank Indonesia optimistis inflasi Kepri hingga akhir 2026 dapat dijaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen melalui penguatan produksi pangan, pasar murah, kerja sama antardaerah, dan koordinasi TPID.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Romus Panca
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: