Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Di sisi lain, Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai produsen MinyaKita menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Menurutnya, struktur biaya produksi saat ini semakin sulit dipenuhi ketika harga CPO terus meningkat.
"Ongkos produksi MinyaKita tidak masuk akal. Dengan memperhitungkan margin keuntungan, biaya olah, kemasan, dan distribusi, harga maksimal bahan baku yakni CPO tak boleh melebihi Rp10.000 per kilogram. Kalau harga CPO lebih dari level itu, produsen MinyaKita potensial merugi," ujarnya.
Khudori menambahkan sebagian produsen berpotensi melakukan berbagai strategi bisnis untuk menutup tekanan margin, termasuk menjual MinyaKita secara bundling dengan produk lain.
Baca Juga: Resmi! Pemerintah Sepakat Naikkan Harga Minyakita
Baca Juga: Siap-siap! Pemerintah Bakal Naikkan Harga MinyaKita, Ini Pertimbangannya
"Adalah benar produsen MinyaKita terus berproduksi di tengah potensi kerugian. Salah satu 'akrobat' yang mungkin dilakukan adalah produsen menjual bundling MinyaKita dengan barang lain agar kerugian tertutupi," kata Khudori.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: