- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Pemkab Sorong Minta Kementan Beri Perhatian Khusus pada Potensi Sagu dan Ubi
Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Pemerintah daerah secara proaktif merekomendasikan perlunya agenda revitalisasi atas sejumlah komoditas pertanian lokal unggulan yang telah memiliki pangsa pasar spesifik.
Wakil Bupati Sorong, Sutejo, memaparkan bahwai wilayahnya pernah mencatatkan masa keemasan sebagai salah satu sentra penghasil kakao terbaik di Papua. Pihak pemkab juga menyoroti potensi perputaran ekonomi di desa-desa sentra penghasil ubi yang menyuplai logistik utama masyarakat Kota Sorong.
“Kami mohon dukungan untuk pengembangan kakao, ubi, dan sagu. Sagu ini adalah makanan utama masyarakat yang ada di sana sehingga perlu mendapat perhatian bersama,” ujarnya dalam Rapat Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua Tahun 2026 di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, dikutip Sabtu (13/6/2026).
Respons dukungan langsung diberikan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Mentan Amran mengatakan, pengembangan arsitektur ketahanan pangan nasional dinilai mutlak memerlukan peleburan antara target produksi massal dan dukungan kearifan budaya pangan masyarakat setempat.
Menurut Amran, komoditas seperti ubi jalar, ubi kayu, dan sagu memiliki nilai strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pangan lokal.
“Kearifan lokal, tanaman-tanaman lokal harus diperhatikan,” tegas Amran.
Kementerian Pertanian menyatakan kesiapannya untuk merumuskan ulang instrumen kebijakan guna menyeimbangkan eskalasi padi dengan penguatan tanaman endemik lokal. Sinergi implementasi dua arah ini dirancang secara berhati-hati agar ketahanan pangan di Papua memiliki tingkat resiliensi ekonomi yang paripurna.
Dukungan terhadap program pembangunan pertanian pemerintah juga disampaikan petani asal Sorong Selatan, Otto Saman. Ia mengaku berbagai program yang dijalankan pemerintah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pembangunan.
Baca Juga: Anggaran Tertinggi Sepanjang Sejarah, Kementan Kucurkan Rp5 Triliun Demi Swasembada Pangan Papua
Baca Juga: Kolaborasi Bersejarah, Kementan dan BRIN Sepakat Perkuat Riset Pertanian Demi Ketahanan Pangan
“Saya selaku kepala desa dan kepala marga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, Bapak Presiden dan Bapak Menteri. Program ini sudah sampai ke daerah-daerah kami yang selama ini sangat sulit dijangkau. Melalui program ini ada kemajuan, harga-harga juga sudah lebih murah,” ujar Otto.
Pengakuan institusi negara terhadap nilai komersial sagu dan ubi jalar mencerminkan gaya tata kelola agribisnis yang sensitif terhadap karakteristik regional. Integrasi berbagai ragam komoditas bermargin tinggi ini diyakini sangat ampuh dalam membuka keran diversifikasi pendapatan bagi pelbagai kelompok tani.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: