Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pengusaha Klaim Harga Bensin Tak Bisa Langsung Turun usai Konflik Iran-Amerika

Pengusaha Klaim Harga Bensin Tak Bisa Langsung Turun usai Konflik Iran-Amerika Kredit Foto: My Pertamina
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perusahaan Energi asal Amerika Serikat (AS) Chevron merespons keras tudingan soal perusahaan-perusahaan minyak sengaja mempertahankan harga bensin tetap tinggi meski harga minyak dunia mulai turun setelah meredanya konflik Iran dan Amerika Serikat.

Chief Financial Officer Chevron, Eimear Bonner mengatakan industri migas memahami keresahan masyarakat terhadap tingginya harga bahan bakar. Namun, menurutnya penurunan harga bensin di stasiun pengisian tidak bisa terjadi secara instan karena terdapat jeda antara turunnya harga minyak mentah dengan harga jual kepada konsumen.

Baca Juga: Pemerintah Cium 'Permainan' di Balik Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa: Masa Habis di Bulan Enam?

"Akan membutuhkan waktu. Ada jeda antara penurunan harga minyak dan kapan penurunan itu terlihat di SPBU. Namun kami memperkirakan harga akan turun seiring situasi yang terus kembali normal," kata Bonner, dikutip Jumat (26/6).

Bonner menegaskan pihaknya terus mengoptimalkan seluruh operasional agar pasokan energi tetap terjaga sekaligus memastikan distribusi produk berjalan lancar di tengah proses normalisasi pascaperang.

Ia juga membantah anggapan bahwa perusahaan minyak sengaja menahan harga tetap tinggi, hal yang ditudingkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

"Saya pikir perusahaan-perusahaan besar sudah melakukan semua yang kami bisa. Untuk Chevron sendiri, produksi kami tahun ini bahkan diproyeksikan tumbuh sekitar 7 hingga 10 persen," ujarnya.

Menurut Bonner, Chevron terus mengoptimalkan produksi selama konflik berlangsung dan tetap melakukan berbagai penyesuaian agar kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi.

Sebelumnya, Trump memerintahkan pengadilan untuk menyelidiki dugaan praktik pengambilan keuntungan berlebihan (price gouging) oleh perusahaan minyak. Ia secara terbuka menyebut nama Chevron, Exxon Mobil, Shell dan BP sebagai perusahaan yang dinilai belum menurunkan harga bensin sesuai penurunan harga minyak mentah.

Trump bahkan menilai harga bensin seharusnya sudah berada di kisaran US$2,25 per galon, jauh lebih rendah dibanding harga yang masih berlaku saat ini.

"Harga bensin di SPBU seharusnya jauh lebih rendah," tegas Trump.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat juga menyatakan telah menerima arahan Presiden untuk segera menelaah kondisi tersebut.

"Harga bahan bakar bukan hanya isu keamanan nasional, tetapi juga memengaruhi pengeluaran setiap warga Amerika. Kami berkomitmen memastikan energi tetap terjangkau," ujar Juru Bicara Departemen Kehakiman.

Sementara itu, harga minyak dunia memang terus mengalami penurunan sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara pekan lalu, meski kedua negara masih berselisih mengenai sejumlah poin dalam nota kesepahaman yang sedang dinegosiasikan.

Baca Juga: Trump Siapkan Wakilnya untuk Dijadikan Kambing Hitam Bencana Perang Iran-Amerika

Harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus turun menjadi sekitar US$72,75 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$69,60 per barel, atau kembali mendekati level sebelum pecahnya perang Iran dan Amerika Serikat pada akhir Februari lalu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar