Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PMI Anjlok Jadi Sinyal untuk Prabowo: Ekonomi Indonesia Terjebak dalam Lingkaran Setan

PMI Anjlok Jadi Sinyal untuk Prabowo: Ekonomi Indonesia Terjebak dalam Lingkaran Setan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Turunnya Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia dinilai tidak hanya mencerminkan perlambatan sektor industri, tetapi juga menjadi sinyal bahwa perekonomian nasional sedang terjebak dalam lingkaran persoalan yang saling berkaitan.

Ekonom Indef dan Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, mengatakan penurunan data terkait ke level 46,9 pada bulan lalu menjadi indikator bahwa sektor industri telah memasuki fase kontraksi yang berpotensi menyeret pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga: Jokowi Ditantang Buktikan Kerugian Akibat Tuduhan Soal Ijazah, Dokter Tifa: Jangan-jangan Hanya...

Menurutnya, melemahnya industri membuat kesempatan kerja produktif semakin terbatas. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada daya beli masyarakat yang ikut menurun.

Ketika konsumsi melemah, permintaan terhadap produk industri ikut turun sehingga pelaku usaha semakin enggan memperluas kapasitas produksi maupun melakukan investasi baru.

"Masalah ini seperti lingkaran setan sehingga upaya memutusnya tidak lain adalah transformasi struktur industri, deregulasi dan debirokratisasi agar dunia usaha, utamanya industri, berkembang," kata Didik.

Menurut Didik, Indonesia sebenarnya pernah berhasil keluar dari situasi serupa pada era 1980-an hingga 1990-an ketika pemerintah menjalankan deregulasi besar-besaran dan mendorong industrialisasi.

Saat itu, pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencapai kisaran 7-8 persen dengan pertumbuhan sektor industri sekitar 10-12 persen.

Namun Didik mengatakan bahwa pendekatan tersebut tidak lagi dijalankan secara konsisten sehingga sektor manufaktur kehilangan momentum sebagai penggerak utama ekonomi.

Sebaliknya, Vietnam justru berhasil menerapkan strategi transformasi industri secara berkelanjutan. Negara tersebut lebih dahulu masuk ke rantai produksi global melalui investasi asing langsung yang berkualitas, kemudian secara bertahap meningkatkan kemampuan teknologi dan inovasi domestik.

Didik menyebut investasi yang masuk ke negara tersebut banyak diarahkan ke sektor industri manufaktur berorientasi ekspor sehingga menciptakan transfer teknologi dan meningkatkan nilai tambah produk.

Berbeda dengan Indonesia yang dinilai masih banyak menarik investasi pada sektor-sektor dengan nilai tambah rendah seperti perdagangan, jasa, maupun aktivitas pengemasan.

Hasilnya kini mulai terlihat. Vietnam berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen dan pada tahun ini resmi masuk kategori negara berpendapatan menengah atas versi Bank Dunia.

Didik mengingatkan Indonesia berisiko tertinggal apabila tidak segera melakukan transformasi industri secara menyeluruh.

Menurutnya, penurunan indeks manufaktur seharusnya menjadi momentum bagi pemerintahan Prabowo untuk memperbaiki iklim usaha, memangkas birokrasi, serta menyusun kebijakan industri yang konsisten.

Baca Juga: Saat Teheran Berduka, Trump Klaim Amerika Telah Memenangkan Perang Iran: Kita Sudah Hancurkan Mereka

Tanpa langkah tersebut, Indonesia dikhawatirkan akan terus berada dalam lingkaran perlambatan industri, lemahnya investasi, rendahnya penciptaan lapangan kerja, dan melemahnya daya beli masyarakat yang saling memperburuk kondisi ekonomi nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar