Isu Percepatan Pemilu Menggema, Sindiran Prabowo ke Budi Arie di Solo Diungkit
Kredit Foto: Ist
Di tengah isu percepatan Pemilu 2029 yang dilontarkan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, jurnalis senior Hersubeno Arief kembali mengungkit sindiran Presiden Prabowo Subianto di Solo.
Saat penutupan Kongres PSI di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Minggu (20/7/2025), Prabowo sempat bertanya kepada Budi Arie yang kala itu menjabat Menteri Koperasi, apakah ia merupakan kader PSI atau Gerindra.
"Saat menghadiri penutupan kongres PSI di Solo 20 Juli 2025, Presiden Prabowo itu ketika menyapa satu per satu para menteri yang hadir, dia masih sempat menyindir Budi Arie. "Menteri Koperasi Saudara Budi Arie Setiadi, ini masuk PSI kok bukan, PSI atau Gerindra?"," ucap Hersu dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Jumat (28/8).
Pertanyaan tersebut sempat menimbulkan tanda tanya, apakah Prabowo mempertanyakan afiliasi politik Budi Arie yang dikenal dekat dengan PSI, atau menyindir kemungkinan ia sudah bergabung dengan Gerindra.
"Karena tentu saja Pak Prabowo pasti enggak tahu satu per satu orang yang menjadi anggota Partai Gerindra begitu ya," ucap Hersu.
Tak lama setelah peristiwa itu, tepatnya pada 8 September 2025, Budi Arie dicopot dari Kabinet Merah Putih. Ia digantikan oleh Wakil Menteri Koperasi sekaligus kader Gerindra, Ferry Juliantono.
Sebelumnya, dalam potongan video yang viral, Budi Arie menyebut insting politiknya mengarah pada percepatan pemilu, yang disambut sorakan “Siap!” dari audiens.
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ucap Budi Arie yang langsung dijawab seruan "Siap!" dari audiens.
Baca Juga: Ternyata Ditugaskan Prabowo, Budi Gunadi Sadikin Siap Maju sebagai Calon Dirjen WHO
Budi Arie kemudian membandingkan kondisi sosial‑ekonomi saat ini dengan masa transisi Orde Baru ke Reformasi 1997–1999, ketika pemilu digelar lebih cepat pada 1999.
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun 97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya 99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy," tandasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: