- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Ekspor Listrik ke Singapura Belum Jelas, Pabrik Panel Surya Pertamina Bingung Cari Pasar
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) mengungkap ketidakpastian rencana ekspor listrik hijau Indonesia ke Singapura masih menjadi tantangan bagi kepastian pasar pabrik panel surya yang tengah dibangun perusahaan bersama LONGi Green Technology Co., Ltd.
Direktur Utama PNRE, John Anis, mengatakan proyek fasilitas manufaktur panel surya tersebut semula diproyeksikan memperoleh dorongan permintaan dari pengembangan proyek ekspor listrik hijau ke Singapura. Namun, hingga kini, kepastian proyek ekspor tersebut belum terlihat.
“Targetnya tadinya untuk ekspor listrik Singapura. Tapi ekspor listrik Singapura belum ada kejelasan, jadi masih agak bingung mencari market-nya,” ujar John dalam paparannya, Rabu (2/9/2026).
PNRE bersama LONGi sebelumnya telah meluncurkan proyek pembangunan fasilitas manufaktur modul panel surya di kawasan Deltamas, Cikarang, Jawa Barat. Fasilitas itu dirancang memiliki kapasitas sekitar 1,4 GW per tahun dan menggunakan teknologi Hybrid Passivated Back Contact atau HPBC 2.0 tipe N.
John berharap program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS sebesar 100 GWp di dalam negeri dapat menciptakan pasar baru bagi industri panel surya nasional. Dengan adanya permintaan domestik dalam skala besar, pabrik panel surya yang disiapkan PNRE diharapkan memiliki kepastian penyerapan produk.
“Harapannya nanti 100 gigawatt konkret sehingga market itu ada sehingga pabriknya bisa berjalan dengan baik. Konsep demand creation tadi juga cukup menarik untuk memberikan keberhasilan,” katanya.
Saat ditanya mengenai peluang PNRE terlibat dalam proyek ekspor listrik ke Singapura, John mengatakan aspek perizinan hingga penetapan pengembang berada di tangan pemerintah.
“Ekspor listrik ini tentu saja ranahnya di pemerintah. Kalau untuk izin, saya belum bisa berkomentar,” lanjutnya.
Menurut John, pemerintah nantinya akan menentukan mekanisme pengadaan, termasuk pihak yang akan ditetapkan sebagai pengembang untuk menyalurkan listrik hijau dari Indonesia ke Singapura.
“Pastinya pemerintah yang akan membuat semacam tender, siapa nanti yang akan menjadi developer-nya yang listriknya dikirim ke Singapura. Tapi ini belum ada, belum ada,” sambung John.
PNRE menyatakan siap mendukung apabila pemerintah meminta perusahaan berpartisipasi dalam proyek lintas negara tersebut.
“Kalau pemerintah meminta kita, kita pasti akan selalu mendukung pemerintah,” tandas John.
Rencana ekspor listrik hijau ke Singapura masih berada dalam tahap negosiasi antarpemerintah, terutama terkait harga jual listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proses pembahasan proyek tetap berjalan, tetapi kesepakatan harga belum rampung.
Baca Juga: Hilirisasi Nasional Bakal Garap Kabel Bawah Laut, Jadi Persiapan Ekspor Listrik Singapura?
Baca Juga: PLN Beli Listrik PSEL Bekasi US$0,20 per kWh, Nilai PJBL Capai Rp792,32 M Setahun
“Terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga,” ujar Bahlil di sela penyambutan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Bahlil menegaskan Indonesia hanya akan melanjutkan ekspor listrik apabila skema yang disepakati memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi kedua negara.
“Memang Singapura minta. Ini sebenarnya ide yang bagus, selama saling menguntungkan. Tapi untuk Singapura, kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cengli,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Minggu (11/5/2026).
Indonesia dan Singapura sebelumnya menyepakati kerja sama perdagangan listrik bersih hingga 3,4 GW sampai 2035. Untuk menopang pasokan tersebut, proyek diproyeksikan memerlukan pembangunan PLTS berkapasitas 18,7 GWp serta sistem penyimpanan energi baterai atau BESS hingga 35,7 GWh.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: