Kredit Foto: Unsplash/Celyn Kang
Ekspektasi suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) yang bertahan tinggi mendorong arus modal global kembali ke Amerika Serikat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi tersebut terjadi seiring penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter AS yang masih ketat.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar AS pada perdagangan Selasa (20/1/2026) mencerminkan sikap investor yang kembali memburu aset aman (safe haven) di tengah meningkatnya risiko global.
“Dolar AS kembali menguat karena pasar mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian global yang meningkat,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Baca Juga: Rupiah Hampir Sentuh Rp17.000, OJK Minta Bank Lakukan Ini
Ia menjelaskan, dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertahankan klaim atas Greenland dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap stabilitas global.
Kekhawatiran investor juga meningkat setelah Amerika Serikat sebelumnya melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Rangkaian peristiwa tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen berbasis dolar AS.
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Federal Reserve turut memperkuat posisi dolar. Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed Januari 2026 hanya sekitar 5%. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar bahwa kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih solid, sehingga ruang pelonggaran moneter dinilai terbatas.
Ibrahim menilai, ekspektasi suku bunga Fed yang tetap tinggi membuat aset keuangan AS semakin menarik bagi investor global. Kondisi ini berdampak langsung terhadap pergerakan arus modal internasional.
“Dengan ekspektasi suku bunga Fed bertahan tinggi, arus modal cenderung kembali ke Amerika Serikat dan menekan mata uang emerging market,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.955, Ini Biang Keroknya!
Tekanan tersebut tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah tipis ke level Rp16.955 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 30 poin ke posisi Rp16.956 per dolar AS sebelum bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang cenderung melemah menunjukkan respons pasar domestik terhadap kombinasi penguatan dolar global dan keluarnya sebagian aliran dana dari aset negara berkembang. Investor masih mencermati perkembangan geopolitik global serta sinyal kebijakan moneter lanjutan dari Federal Reserve sebagai faktor penentu arah pasar ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri