Bitcoin Sempat Turun ke US$74.000, Mega Whale Terpantau Tetap Borong
Kredit Foto: Indodax
Harga Bitcoin sempat turun tajam ke kisaran US$74.000 sebelum kembali menguat ke sekitar US$77.000, di tengah volatilitas pasar kripto global. Di tengah tekanan tersebut, data on-chain menunjukkan kelompok investor besar atau mega whale justru terpantau tetap melakukan pembelian Bitcoin secara bertahap.
Tekanan harga terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penguatan dolar Amerika Serikat setelah nominasi kepemimpinan baru Federal Reserve. Koreksi tersebut tercatat menghapus kapitalisasi pasar aset kripto global sekitar US$800 miliar sejak mencapai puncaknya pada Oktober lalu.
Data on-chain dari Glassnode mencatat adanya perbedaan perilaku investor selama fase koreksi. Saat investor ritel cenderung melakukan aksi jual karena kepanikan, kelompok mega whales atau pemegang lebih dari 1.000 Bitcoin justru meningkatkan akumulasi untuk menyerap pasokan yang dilepas ke pasar.
Baca Juga: Investor Bitcoin (BTC) Mesti Waspada Pengangkatan Kevin Warsh, Ini Alasannya
Vice President INDODAX Antony Kusuma menjelaskan, Bitcoin kerap menjadi aset yang paling cepat bereaksi terhadap kepanikan global karena diperdagangkan tanpa henti.
“Bitcoin sering kali menjadi salah satu aset pertama yang bereaksi terhadap kepanikan global karena sifat pasarnya yang beroperasi 24/7,” ujar Antony.
Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari risk-off sentiment yang terjadi secara serentak, tidak hanya di pasar aset digital. Instrumen hard money tradisional seperti emas dan perak juga mengalami tekanan jual signifikan pada periode yang sama.
Antony menambahkan, meskipun pasar saat ini berada dalam fase ketakutan ekstrem, kondisi fundamental industri kripto dinilai lebih kuat dibandingkan siklus penurunan sebelumnya.
“Fundamental industri jauh lebih kokoh dibandingkan siklus serupa di tahun 2022,” katanya.
Baca Juga: Katanya Emas Digital, Harga Bitcoin (BTC) Malah Tertinggal Saat Reli Safe-haven Global
Ia menyebut keterlibatan institusi besar seperti BlackRock dan JPMorgan, yang telah masuk melalui produk ETF dan infrastruktur perbankan, memberikan bantalan yang lebih kuat terhadap risiko sistemik jangka panjang.
Di sisi lain, Antony mengimbau investor kripto di Indonesia untuk tidak bereaksi secara impulsif terhadap fluktuasi harga jangka pendek dan tetap memperhatikan manajemen risiko.
Investor disarankan untuk disiplin pada strategi investasi jangka panjang, melakukan evaluasi portofolio secara berkala, serta mencermati dinamika pasar secara proporsional di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: