Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Indonesia Berpeluang Jadi Basis Produksi Mobil Listrik Setir Kanan di Asia Tenggara

        Indonesia Berpeluang Jadi Basis Produksi Mobil Listrik Setir Kanan di Asia Tenggara Kredit Foto: Xinhua
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat terjadi peningkatan volume ekspor mobil merek China yang dirakit di pabrik lokal Indonesia pada 2025.

        Peningkatan ekspor ini terjadi karena didorong naiknya permintaan mobil listrik di beberapa kawasan Asia.

        Ekspor itu kebanyakan dalam bentuk mobil utuh atau atau completely built-up (CBU) dan tiga merek produsen mobil China seperti Chery, DFSK serta Wuling menjadi tiga merek papan atas dengan mencatatkan total ekspor sebanyak 3.200 unit.

        Adapun tujuan utama ekspornya meliputi negara-negara di Asia seperti Sri Lanka, Bangladesh, Brunei, dan Vietnam. Wuling menjadi merek China dengan volume ekspor terbesar, yakni 2.411 unit, disusul Chery sebanyak 745 unit, dan DFSK sebanyak 44 unit.

        Baca Juga: Ariya EV 2026: Mobil Listrik Nissan dengan Antarmuka Google Built-in

        Menanggapi capaian itu, pengamat otomotif dari ITB Yannes Martinus Pasaribu menilai tren positif itu membuktikan tenaga kerja Indonesia dinilai telah mampu memenuhi standar global dalam hal merakit mobil listrik.

        "Saya melihat Indonesia sedang naik kelas, tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar, khususnya untuk kendaraan listrik, tetapi juga telah diakui sebagai basis produksi. Jika tren ini dijaga dengan regulasi yang konsisten, angka ekspor tersebut berpotensi melonjak dalam beberapa tahun mendatang," kata Yannes dikutip dari Xinhua.

        Menurutnya, terdapat sejumlah alasan pabrikan China memilih Indonesia sebagai basis produksi untuk tujuan ekspor.

        Ia menyebut Indonesia memiliki peluang sebagai basis produksi mobil setir kanan untuk negara-negara tetangga, seperti negara-negara Asia Tenggara, Bangladesh, Sri Lanka, hingga Australia.

        Selain itu, Yannes menilai mobil produksi Indonesia berpeluang terhindar dari tarif impor yang lebih tinggi di negara tujuan dibandingkan dengan kendaraan yang diproduksi langsung di China.

        Hal ini antara lain didukung oleh keberadaan berbagai perjanjian perdagangan bebas tarif antara Indonesia dan sejumlah negara.

        Faktor lainnya adalah ekosistem baterai kendaraan listrik yang saat ini terus dikembangkan secara lokal, yang diperkirakan akan membuat biaya produksi EV di Indonesia akan terus menurun ke depannya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: