Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Blokade Minyak AS Picu Krisis Energi, Sistem Listrik Kuba Ambruk Dua Kali Sepekan

        Blokade Minyak AS Picu Krisis Energi, Sistem Listrik Kuba Ambruk Dua Kali Sepekan Kredit Foto: The Hill
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sistem kelistrikan nasional Kuba kembali kolaps pada Sabtu (21/3/2026), menandai pemadaman total kedua dalam sepekan dan memperdalam krisis energi di negara tersebut akibat blokade minyak Amerika Serikat yang membatasi pasokan bahan bakar. 

        Operator listrik negara Union Electrica menyatakan seluruh sistem listrik nasional terputus secara total pada pukul 18.32 waktu setempat.

        “Pada pukul 18.32 terjadi pemutusan total Sistem Tenaga Listrik Nasional. Kami akan terus memberikan pembaruan,” tulis Union Electrica, dikutip, Senin (23/3/2026). 

        Kejadian ini menjadi pemadaman besar ketiga sepanjang Maret 2026, setelah sebelumnya sistem listrik sempat mengalami kegagalan pada awal bulan akibat gangguan pembangkit listrik utama dan kembali padam tanpa penjelasan beberapa hari sebelumnya. 

        Dari sisi ekonomi, krisis ini memperlihatkan tekanan serius pada sektor energi Kuba yang bergantung pada impor minyak. Blokade minyak yang diberlakukan pemerintah AS di bawah Presiden Donald J. Trump telah memutus pasokan utama dari Venezuela, yang selama ini menjadi pemasok utama dengan skema preferensial. 

        Selain itu, Amerika Serikat juga memperingatkan negara lain agar tidak mengekspor minyak ke Kuba, yang berdampak pada terhentinya pengiriman dari Meksiko sebagai salah satu pemasok penting. 

        Kondisi tersebut diperparah oleh lonjakan harga minyak global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, yang semakin membatasi kemampuan Kuba memperoleh energi dari pasar internasional. 

        Krisis energi ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi domestik. Pemadaman listrik meluas mengganggu operasional industri, distribusi pangan, layanan kesehatan, hingga sistem komunikasi. 

        Pemerintah Kuba berupaya memulihkan pasokan listrik dengan mengaktifkan sistem mikro (microgrid) di berbagai wilayah untuk memastikan layanan vital seperti rumah sakit dan distribusi pangan tetap berjalan. 

        Namun, keterbatasan pasokan bahan bakar membuat pemulihan berlangsung lambat. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel sebelumnya menyatakan negara tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 40% kebutuhan bahan bakarnya sendiri dan tidak menerima pasokan minyak dari luar selama beberapa bulan terakhir. 

        Baca Juga: Komandan Amerika Serikat Buka Suara Terkait Wacana Invasi Kuba

        Baca Juga: Jaringan Listrik Kuba Mati: 10 Juta Warga Tanpa Daya Gegara Blokade Minyak Amerika Serikat

        Baca Juga: Kuba 'Masih' Aman, Trump Fokus Selesaikan Isu Amerika Serikat-Iran

        Kuba menyalahkan embargo dan blokade energi Amerika Serikat sebagai penyebab utama krisis, sementara pemerintah AS menilai kondisi tersebut dipicu oleh kelemahan sistem ekonomi terpusat dan infrastruktur yang sudah usang.

        Serangkaian pemadaman listrik yang berulang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kerentanan sistem energi Kuba, yang menghadapi kombinasi tekanan eksternal berupa pembatasan pasokan minyak serta faktor internal seperti infrastruktur pembangkit yang menua dan kurangnya investasi. 

        Kondisi ini menempatkan sektor energi sebagai titik kritis dalam stabilitas ekonomi Kuba, di tengah keterbatasan akses terhadap sumber daya dan meningkatnya tekanan geopolitik global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: