AS-Israel Disebut Rapat Rahasia Bahas Iran, Konflik Bisa Makin Panas dan Ekonomi Dunia Makin Tak Pasti
Kredit Foto: Reuters/Amir Cohen
Amerika Serikat dan Israel memperkuat koordinasi militer terhadap Iran di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi dan stabilitas kawasan.
Kepala US Central Command Laksamana Brad Cooper bertemu dengan Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir untuk membahas langkah lanjutan menghadapi Iran. Pertemuan tersebut dilaporkan berlangsung di Israel dengan melibatkan sejumlah pejabat militer lainnya.
Menurut laporan TASS, pembahasan difokuskan pada upaya menekan kemampuan produksi senjata Iran. Pertemuan tersebut berfokus pada perang melawan Iran dan upaya untuk menghentikan produksi senjata Iran.
Koordinasi ini menjadi bagian dari operasi militer yang telah dimulai sejak 28 Februari oleh Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut menyasar sejumlah kota besar Iran, termasuk Teheran, dengan alasan ancaman rudal dan nuklir.
Sebagai respons, Iran melalui Garda Revolusi Islam melancarkan serangan balasan ke berbagai target di Israel. Selain itu, pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah seperti Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab juga menjadi sasaran.
Eskalasi konflik semakin meningkat setelah Iran mengancam akan mengganggu jalur pelayaran energi global. Pada 11 Maret, perwakilan markas pusat Khatam al-Anbiya menyatakan Iran tidak akan mengizinkan kapal tanker minyak yang berafiliasi dengan AS melintasi Selat Hormuz.
Peringatan tersebut diperkuat beberapa hari kemudian dengan ancaman tindakan lebih keras. Iran menyatakan siap menggunakan berbagai cara, termasuk mengendalikan navigasi kapal di Selat Hormuz, untuk memaksa lawan menyerah.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan biaya logistik global.
Bagi investor, situasi ini menjadi sinyal risiko besar terhadap pasar energi dan keuangan global. Kenaikan harga minyak dapat menguntungkan sektor energi, namun di sisi lain meningkatkan tekanan inflasi dan volatilitas pasar.
Baca Juga: AS Siapkan Serangan Darat ke Iran, Tanda Perang Masuk Fase Baru
Untuk Indonesia, dampaknya dapat terasa melalui tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah. Sebagai negara net importir energi, lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar defisit transaksi berjalan.
Pelaku usaha juga perlu mewaspadai kenaikan biaya distribusi akibat lonjakan harga energi. Sementara itu, ketidakpastian geopolitik berpotensi menekan sentimen pasar saham, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: