Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Dunia Kembali Meroket Imbas Blokade Selat Hormuz dan Buntunya Negosiasi AS-Iran

        Harga Minyak Dunia Kembali Meroket Imbas Blokade Selat Hormuz dan Buntunya Negosiasi AS-Iran Kredit Foto: Reuters
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanaskan pasar energi global dan tentu saja berimbas pada harga minyak mentah yang kini melonjak tajam.

        Hal ini dipicu oleh manuver Iran yang kembali memblokade Selat Hormuz serta buntunya prospek perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS).

        Lonjakan harga ini langsung terasa secara signifikan di bursa komoditas. Berdasarkan data awal perdagangan pekan ini, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Mei menembus angka USD 91,2 per barel.

        Baca Juga: Duduk Perkara Langkah Putar Balik Iran Tutup Kembali Selat Hormuz

        Angka ini melesat 8,76 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat (17/4) lalu (asumsi kurs USD 1 = Rp17.189).

        Sebagaimana dikutip dari Xinhua, setali tiga uang, patokan harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni juga menyentuh level tertingginya di USD 97,5 per barel, meroket dari sesi penutupan sebelumnya yang berada di angka USD 90,38 per barel.

        Kepanikan pasar ini sejalan dengan memanasnya kondisi riil di perairan Timur Tengah. Sebuah lembaga analisis maritim asal London melaporkan bahwa sedikitnya 35 kapal komersial terpaksa putar balik dalam 36 jam terakhir akibat pengetatan kontrol armada Iran di Selat Hormuz.

        Puncaknya terjadi pada Sabtu (18/4) malam, ketika Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara tegas mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Manuver ini cukup mengejutkan pasar, mengingat sehari sebelumnya pemerintah Iran sempat berjanji akan membuka jalur vital tersebut untuk seluruh kapal komersial selama masa gencatan senjata Lebanon-Israel berlangsung.

        Situasi kian pelik menyusul sinyal negatif dari ranah diplomasi. Pada Minggu (19/4), kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menyatakan bahwa Teheran menolak berpartisipasi dalam putaran kedua perundingan perdamaian dengan Washington. Keputusan ini praktis mementahkan harapan deeskalasi konflik yang sempat terbangun.

        Sentimen negatif dari memanasnya Timur Tengah ini tidak hanya mengerek harga minyak, tetapi juga menghantam pasar finansial secara luas. Indeks saham berjangka AS dilaporkan anjlok seketika pada Minggu malam, yang turut diiringi dengan penurunan tajam pada harga logam mulia berjangka.

        Kondisi pesimistis ini berbanding terbalik dengan euforia pasar pada Jumat pekan lalu. Saat itu, optimisme akan kembali normalnya arus perdagangan di Selat Hormuz sempat menekan harga minyak WTI hingga anjlok lebih dari 11 persen. Kabar baik tersebut bahkan sempat mengantarkan indeks saham S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi baru.

        Sebagai catatan, Selat Hormuz merupakan urat nadi perairan dunia yang memfasilitasi sekitar 20 persen aliran minyak global. Jalur pelayaran strategis ini praktis lumpuh dan tertutup untuk transit kapal tanker minyak semenjak pecahnya konflik terbuka di Timur Tengah pada akhir Februari lalu.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: