Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Dorong Petani Ke Industri Pangan, Kementan Bentuk SP3T

Dorong Petani Ke Industri Pangan, Kementan Bentuk SP3T Kredit Foto: Kementan

"Pada 2018 para petani di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis mendapat bantuan fasilitas  alsintan berupa alat pemisah warna beras (color sorter, red). Sebab, beras premium terlihat putih mulus  tidak ada campuran warna lain, seperti kuning apalagi warna hitam," ujarnya di Ciamis, Minggu (6/10/2019).

Melalui mesin tersebut permintaan pasar atau konsumen bisa dilayani. Beras yang dibutuhkan bisa dipoles karena alat untuk itu sudah tersedia di SP3T Darma Usaha yang dikelola oleh Kelompok Tani Darma Usaha.

“Para petani yang tergabung di Gabungan Kelompok Tani Darma Usaha telah bisa melayani permintaan beras seperti apa saja karena alat sudah tersedia dari Kementan,” beber Budiawan.

Baca Juga: Awas! Berani Mainkan Kualitas Benih Jagung, Kementan Siap Tindak Tegas!

Dia menambahkan bahwa apabila merujuk pada kesehatan pangan, maka beras terkupas awal itulah yang sehat dikonsumsi atau tidak perlu dipoles lagi. Namun, itulah masyarakat di Indonesia sekarang ini yang menginginkan beras yang harus terlihat bersih dan bening, padahal gizinya sudah hampir tidak ada lagi.

"Bangunan SP3T di Desa Sukasari, Kecamatan Banjarsari, Ciamis itu ternyata kapasitasnya kurang cukup. Kalau sedang berproduksi, tempat penyimpanan gabah yang siap dikeringkan di vertical drayer dengan hasil yang akan masuk ke mesin penggilingan menjadi sangat penuh," katanya.

Budiawan mengaku telah menyampaikan kepada pihak Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil di Kementan. Alhasil, tambahan kapasitas gudang akan ditambah dalam waktu dekat.

"Karena ini kan masih tergolong baru dan masih pengembangan, namun biarlah konsentrasi dulu untuk pemanfaatan alat yang sudah ada semaksimal mungkin," ujarnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Clara Aprilia Sukandar

Bagikan Artikel: