Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Stunting Bisa Pukul Telak Bangsa Jika Tak Tertangani, Keluarga Indonesia Wajib Simak!

Stunting Bisa Pukul Telak Bangsa Jika Tak Tertangani, Keluarga Indonesia Wajib Simak! Kredit Foto: Tangkap layar/BKKBN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Nopian Andusti memaparkan bahwa stunting memiliki efek domino yang panjang bagi bangsa Indonesia.

Dia mengatakan, anak yang terdiagnosa stunting akan mengalami gangguan pada perkembangan motoriknya. Selain itu, kata Nopian, pertumbuhan metabolik anak juga akan tergantung hingga dia dewasa.

Baca Juga: Blak-blakan Minta Perlindungan ke TNI, Keluarga Brigadir J: Jadi Begini, Polri...

Bahkan, kata Nopian, dampak panjangnya bagi bangsa, akan bertambahnya pengangguran di Indonesia. Hal tersebut disebabkan, jelas Nopian, karena gangguan intelektual yang dialami anak stunting akan menurunkan daya saing di masa depan.

"Dampak stunting bisa mengakibatkan gagal tubuh, hambatan perkembangan motorik serta gangguan metabolik pada saat dewasa, sehingga saat memasuki era usia produktif berpotensi besar menghasilkan sumber daya manusia dengan tingkat intelektual yang rendah dan tidak berdaya saing, sehingga memungkinkan tingkat pengangguran akan meningkat karena kesulitan untuk memasuki dunia kerja," jelas Nopian, Kamis (21/7/22).

Mengacu pada amanat Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021, Nopian memaparkan bahwa pihaknya akan secara serius menurunkan prevalensi stunting di Indonesia dengan target nasional sebesar 14 persen di tahun 2024.

Berdasarkan hal tersebut, Nopian memaparkan bahwa untuk mencegah terjadinya stunting pada anak, diperlukan pola pengasuhan yang baik pada 1000 hari pertama kehidupan. Dia mengatakan dari sejak awal konsepsi selama 270 hari masa kehamilan, sampai dengan 730 hari setelah lahir hingga anak berusia dua tahun.

Selain itu, dia juga memaparkan bahwa terdapat pula tugas di sektor kesehatan, diantaranya intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang mesti dipenuhi keluarga pada masa 1000 hari pertama kehidupan anak.

"Intervensi gizi spesifik diberikan kepada anak dalam 1000 hari pertama kehidupan dilakukan oleh sektor kesehatan dan bersifat jangka pendek, sedangkan intervensi gizi sensitif diberikan melalui berbagai kegiatan di luar sektor Kesehatan sebagai mitigasi atau penanganan stunting. Intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif harus terus dilakukan, khususnya di usia balita," jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Nopian mengatakan bahwa pihaknya melalui kegiatan kelas pengasuhan, berupaya untuk mewujudkan perubahan perilaku dan tingkat keluarga. Dia mengatakan bahwa BKKBN akan terus mendorong inovasi dalam pencegahan stunting berbasis keluarga.

Baca Juga: Novel Bamukmin Blak-blakan, Usai Bebas Bersyarat, Habib Rizieq Belum Bisa Leluasa Berdakwah!

"Program bangga kencana melalui kegiatan bina keluarga balita dan anak sangat strategis untuk meningkatkan pengetahuan sikap dan keterampilan orang tua dan anggota keluarga lainnya yang memiliki balita dalam membina tumbuh kembang balita melalui rangsangan fisik motorik, kecerdasan emosional, dan sosial ekonomi," katanya.

Baca Juga: Wah! Kini Pembayaran SIM dan SKCK Bisa Lewat Bank Syariah Indonesia

Penulis: Andi Hidayat
Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: