Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Emiten Golden Energy Mines 101: Kinerja Keuangan, Rasio Keuangan, dan Aksi Korporasi

Emiten Golden Energy Mines 101: Kinerja Keuangan, Rasio Keuangan, dan Aksi Korporasi Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) adalah perusahaan yang bergerak di bidang penghasil dan perdagangan hasil tambang serta jasa pertambangan. Perusahaan yang berdiri dengan nama PT Bumi Kencana Sakti pada tahun 13 Maret 1997–mengalami pergantian nama pada 16 November 2010–itu resmi melantai di bursa per tanggal 17 November 2011.

Golden Energy Mines diklaim sudah mempunyai izin usaha pertambangan batu bara untuk wilayah Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Jika dikalkulasikan, perusahaan yang tergabung dalam Sinar Mas Group itu mempunyai wilayah pertambangan seluas 66.204 hektare dengan total potensi sumber daya sebesar 2,92 miliar ton dan total cadangan mencapai 0,99 miliar ton. 

Mengacu pada situs webnya, diketahui bahwa Golden Energy Mines telah mengalokasikan 36% total produksi batu bara perusahaan atau setara dengan 13,5 juta ton untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Tidak hanya keperluan domestik, Golden Energy Mines juga melakukan kegiatan ekspor yang berfokus pada negara-negara di Asia, seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, Pakistan, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.

Untuk mengetahui informasi selengkapnya mengenai Golden Energy Mines, termasuk performa keuangan perusahaan, rasio keuangan, profil manajemen, dan aksi korporasinya, silakan simak artikel berikut ini!

Baca Juga: Emiten Semen Indonesia 101: Performa Perusahaan, Rasio Keuangan, dan Aksi Korporasi

Performa Keuangan Golden Energy Mines pada Paruh Pertama 2023

Golden Energy Mines berhasil mengumpulkan laba sebesar US$333,48 juta atau setara dengan Rp5,10 triliun (asumsi kurs sebesar Rp15.319 per dolar AS) pada paruh pertama 2023. Kendati demikian, jika dibandingkan dengan laba pada periode yang sama di tahun sebelumnya, terlihat ada pengikisan tipis sebesar 0,72%.

Turunnya laba Golden Energy Mines tidak sejalan dengan perolehan pendapatan perusahaan. Sebab, pada semester pertama tahun 2023, Golden Energy Mines justru mengalami peningkatan pendapatan sebesar 8,17% menjadi US$1,44 miliar atau setara dengan Rp22,12 triliun.

Sementara itu, beban pokok pendapatan Golden Energy Mines tercatat naik sepanjang enam bulan pertama tahun 2023. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis beberapa waktu lalu, dikabarkan bahwa perusahaan itu harus menggelontorkan US$804,28 juta alias 11,90% lebih banyak dari periode enam bulan pertama tahun 2022.

Sebagai catatan, kepemilikan aset Golden Energy Mines telah menyentuh angka US$1,35 miliar. Nominal tersebut terdiri atas aset lancar senilai US$916,46 juta dan aset tidak lancar senilai US$443,34 juta. Adapun liabilitas dan ekuitas perusahaan masing-masing berada di angka US$464,34 juta dan US$895,46 juta.

Baca Juga: Emiten Adaro Energy 101: Kinerja Perusahaan, Rasio Keuangan, dan Aksi Korporasi

Rasio Keuangan Golden Energy Mines

Merujuk pada laporan keuangan per Juni 2023, dikabarkan bahwa Gross Profit Margin (GPM) Golden Energy Mines berada di angka 44,27%. Perlu diketahui bahwa GPM rata-rata industri berada di angka 30%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rasio margin kotor perusahaan satu ini tergolong sudah baik.

Rasio keuangan berikutnya yang akan dipakai untuk melihat kinerja Golden Energy Mines adalah Return on Asset (ROA). Jika dihitung, pada semester pertama tahun 2023, ROA perusahaan batu bara itu berada di angka 24,50%. Dengan persentase tersebut, perusahaan tersebut tergolong sudah mampu mengelola aset terhadap laba dengan sangat baik.

Rasio keuangan terakhir yang akan dijadikan tolok ukur adalah Debt to Equity Ratio (DER) dan Current Ratio (CR). Setelah dikalkulasikan, dilaporkan bahwa DER perusahaan berada di posisi 51,84% yang termasuk kategori baik; sedangkan CR Adaro Energy Indonesia berada di posisi 237,4% yang termasuk kategori ideal.

Baca Juga: Emiten Wijaya Karya 101: Kinerja Perusahaan, Rasio Keuangan, hingga Aksi Korporasi

Profil Golden Energy Mines

Berdasarkan keputusan yang diambil pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perusahaan pada 2016 silam, jabatan Presiden Direktur Golden Energy Mines diberikan kepada Bonifasius. Selain menjadi pimpinan tertinggi, alumni Universitas Gadjah Mada itu juga mempunyai wewenang sebagai direktur dan komisaris di beberapa anak perusahaan Golden Energy Mines.

Dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai presiden direktur, Bonifasius dibantu oleh Feriwan Sinatra selaku wakil presiden direktur. Selain itu, ia juga menerima banyak dukungan dari sesama direktur yang mumpuni di bidangnya, yaitu Yoghi Nuswantoro, R. Utoro, Suhendra, dan Paulus Yuniardi.

Tidak hanya jajaran direksi, Golden Energy Mines tentunya turut mempunyai dewan komisaris yang bertugas untuk menjalankan fungsi pengawasan. Pada periode ini, kursi Komisaris Utama Golden Energy Mines diduduki oleh Lokita Prasetya.

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu dipilih karena sudah mempunyai banyak pengalaman, seperti menjadi Direktur PT Sulfindo Adiusaha, Presiden Direktur PT Merak Energi Indonesia, dan Eksekutif Direktur PT Standard Toyo Polymer beberapa tahun silam.

Supaya Lokita dapat melaksanakan pekerjaannya dengan maksimal, ada beberapa sosok yang dipercaya untuk mendampinginya sebagai komisaris dan komisaris independen. Merujuk dari situs webnya, dikabarkan bahwa posisi komisaris diisi oleh Alex Sutanto dan Haris Mustarto, sedangkan posisi komisaris independen dihuni oleh Ir. Bambang Setiawan dan Ketut Sanjaya.

Baca Juga: Emiten GoTo 101: Kinerja Perusahaan, Rasio Keuangan, hingga Aksi Korporasi

Aksi Korporasi Golden Energy Mines

Salah satu aksi korporasi yang hampir pasti dilakukan oleh kebanyakan emiten adalah pembagian dividen. Jika perusahaan mampu mendulang laba selama periode tertentu, dalam rangka menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada pemegang saham, biasanya, emiten tidak akan ragu untuk mengeksekusi aksi korporasi tersebut. Hal yang sama juga berlaku pada Golden Energy Mines.

Karena perusahaan batu bara itu mampu mengantongi keuntungan sebesar US$333,48 juta pada semester pertama tahun 2023, Golden Energy Mines memutuskan untuk membagikan dividen interim senilai US$325 juta atau setara dengan Rp4,97 triliun. Rencananya, setelah melewati serangkaian proses, pembagian hak investor itu akan dilaksanakan pada 12 September 2023.

Selain itu, Golden Energy Mines juga sempat melakukan peningkatan modal dasar terhadap anak dan cucu perusahaannya, yaitu PT Era Mitra Selaras, PT Wahana Rimba Lestari, dan PT Berkat Satria Abadi. Dengan demikian, total modal disetor masing-masing perusahaan bertambah menjadi Rp39,02 miliar; Rp24,24 miliar; dan Rp12,22 miliar.

Baca Juga: Emiten Vale Indonesia 101: Performa Perusahaan, Rasio Keuangan, hingga Aksi Korporasi

Aksi korporasi lain yang pernah dieksekusi oleh Golden Energy Mines adalah transaksi afiliasi yang melibatkan anak perusahaan tak langsungnya, yaitu PT Bungo Bara Utama dan PT Royal Oriental. Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada tahun 2021 silam, diketahui bahwa keduanya telah terlibat kesepakatan penyewaan ruangan milik Royal Oriental kepada Bungo Bara Utama dengan nilai mencapai Rp685,54 miliar.

Baca Juga: Erick Thohir Bakal Kembali Laporkan Dua Dapen yang Dikelola BUMN ke Kejagung

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yohanna Valerie Immanuella
Editor: Yohanna Valerie Immanuella

Advertisement

Bagikan Artikel: