- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Bursa Asia Bergejolak, Investor Soroti Manuver Terbaru China dan Amerika Serikat

Bursa Asia kembali bergejolak dengan hasil penutupan yang variatif dalam perdagangan di Senin (24/3). Pasar menunggu kejelasan penerapan kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS) di 2 April 2025.
Dilansir dari CNBC International, Selasa (25/3), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dari Bursa Asia. Indeks China sukses membukukan kenaikan yang cukup signifikan:
- Nikkei 225 (Jepang): Melemah 0,18% ke 37.608,50.
- Topix (Jepang): Turun 0,47% ke 2.790,88.
- Shanghai Composite (China): Menguat 0,15% ke 3.370,03.
- CSI 300 (China): Naik 0,51% ke 3.934,85.
- Hang Seng (Hong Kong): Naik 0,91% ke 23.905,56.
- Kospi (Korea Selatan): Turun 0,42% ke 2.632,07.
- Kosdaq (Korea Selatan): Naik 0,11% ke 720,22.
Investor tengah wait and see sambil mengkalkulasi kembali investasi mereka dalam sejumlah bursa termasuk di Asia. Hal ini menyusul dinamika seputar kebijakan tarif dari AS.
Perdana Menteri China, Li Qiang baru-baru ini mendorong adanya dialog soal kebijakan tarif dari China dan AS. Ia mengatakan kedua negara sebaiknya mengutamakan kerja sama yang saling menguntungkan dibandingkan persaingan yang merugikan baik terhadap China maupun AS.
Beijing juga mengajak negara-negara dunia untuk membuka pasar mereka seluas-luasnya sembari mengajak pengusaha global untuk menanamkan investasi mereka di China.
Adapun Presiden AS, Donald Trump baru-baru ini menjadi sorotan menyusul sinyal bahwa ia tak akan menerapkan tarif khusus untuk sektor tertentu di 2 April 2025.
Kabar tersebut menjadi angin segar bagi investor yang juga menyoroti data perekonomian terbaru dari AS. Indeks Output Komposit Purchasing Managers Index (PMI) AS baru-baru ini tercatat naik menjadi 53,5 di Maret 2025. Angka tersebut cukup jauh lebih baik dari capaian 51,6 di Februari 2025.
Baca Juga: Bagikan Dividen Rp343,4 per Saham! BRI Kucurkan Rp51,74 Triliun ke Investor
Investor kini menantikan rilis data ekonomi terbaru pekan ini, termasuk Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE). Data tersebut diketahui menjadi indikator inflasi pilihan dari Federal Reserve (The Fed).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement