Perjalanan Sabana Prawirawidjaja Membangun Ultrajaya hingga Masuk 50 Orang Terkaya se-Indonesia

Dalam dunia bisnis Indonesia, nama Sabana Prawirawidjaja mungkin tidak setenar para konglomerat di sektor properti atau telekomunikasi. Namun, pria kelahiran 1940 ini adalah salah satu sosok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan industri susu di Indonesia.
Sebagai Presiden Direktur PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), Sabana telah membawa perusahaan susu keluarganya menjadi salah satu produsen terbesar di Indonesia, sekaligus mencatatkan namanya dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes dengan kekayaan mencapai USD 940 juta (sekitar Rp 15 triliun) pada 2023.
Kisah Ultrajaya dimulai pada 1958, ketika Achmad Prawirawidjaja, ayah Sabana, mendirikan sebuah industri rumahan pengolahan susu di Bandung, Jawa Barat. Saat itu, produksi susu masih dilakukan dengan metode sederhana, jauh dari teknologi canggih yang digunakan sekarang.
Namun, segalanya berubah ketika Sabana, sebagai anak tertua, mengambil alih kepemimpinan perusahaan pada 1971 di usia 31 tahun. Dengan latar belakang pendidikan General Management dari Nanyang University, Singapura, ia membawa visi baru untuk mengembangkan Ultrajaya menjadi perusahaan modern.
Di bawah kepemimpinan Sabana, Ultrajaya melakukan terobosan besar dengan mengadopsi teknologi Ultra High Temperature (UHT) dan pengemasan steril. Inovasi ini memungkinkan susu bertahan lebih lama tanpa bahan pengawet, sekaligus mempertahankan nutrisinya.
Baca Juga: Perjalanan Dua Pendiri Wings Group, dari Jual Sabun Batangan hingga Sukses Punya Bank
Pada 1975, Ultrajaya meluncurkan Ultra Milk, produk susu cair UHT pertama di Indonesia yang menjadi pionir di industri ini. Keberhasilan Ultra Milk membuka jalan bagi diversifikasi produk, beberapa yang paling terkenal adalah:
- Buavita (1978): Minuman sari buah UHT
- Teh Kotak (1981): Minuman teh UHT yang menjadi ikonik
Sabana tidak hanya fokus pada produk susu. Pada 1981, Ultrajaya menjalin kerja sama dengan Kraft, perusahaan keju ternama asal Amerika, untuk memproduksi dan memasarkan produk keju di Indonesia. Kerja sama ini semakin diperkuat pada 1994 dengan pendirian PT Kraft Ultrajaya Indonesia, di mana Ultrajaya memegang 30% saham.
Di tahun yang sama, keluarga Prawirawidjaja melebarkan sayap ke bisnis es krim dengan mengakuisisi PT Campina Ice Cream. Sabana sempat menjabat sebagai Presiden Komisaris Campina (1995-2017) sebelum akhirnya mengambil alih kembali saham perusahaan dari putranya, Samudera Prawirawidjaja, pada Januari 2025.
Meskipun telah menjadi raksasa di industri minuman, Ultrajaya tetap menghadapi tantangan, termasuk persaingan ketat dan perubahan pasar. Namun, Sabana membuktikan ketangguhan bisnisnya dengan beberapa pencapaian penting:
Tentu bisnis dapat mengalami pasang dan surut. Pada tahun 2008, Ultrajaya menjual merek Buavita ke Unilever senilai Rp440 miliar. Meskipun begitu, pada beberapa tahun terakhir Sabana Prawirawidjaja masuk ke dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai USD 940 juta, menurut Forbes
Hingga kini, di usianya yang telah menginjak 84 tahun, Sabana masih aktif memimpin Ultrajaya sebagai Presiden Direktur, sebuah jabatan yang dipegangnya sejak 1971. Dedikasinya selama lebih dari 50 tahun membuktikan bahwa kesuksesan bisnis tidak hanya tentang modal besar, tetapi juga konsistensi, inovasi, dan kemampuan beradaptasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Advertisement