Selat Hormuz Ditutup Iran, DPR Minta Pemerintah Segera Antisipasi Lonjakan Harga Minyak
Kredit Foto: Google Earth
Ketegangan militer di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar berita geopolitik dari jauh. Bagi Indonesia, penutupan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sejak akhir Februari 2026 berpotensi langsung menekan APBN dan mengguncang harga bahan bakar minyak di dalam negeri, terlebih di tengah momentum Ramadan yang identik dengan lonjakan konsumsi energi.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Putri Zulkifli Hasan menjadi salah satu legislator yang terang-terangan mengangkat alarm. Ditemui di Jakarta, Selasa (3/3/2026). Ia mengingatkan bahwa Selat Hormuz bukan perairan biasa, jalur itu adalah urat nadi pasokan energi dunia yang kini dalam kondisi terkunci.
"20 persen pasokan minyak dan gas dunia itu melewati Selat Hormuz sehingga tentu apabila ada penutupan di Selat Hormuz tersebut akan terpengaruh pasokan minyak dunia, yang nanti imbasnya juga tentu ke harga minyak global," ucapnya dikutip dari ANTARA.
Angka 20 persen bukan sekadar statistik. Penutupan yang berlaku efektif sejak 1 Maret 2026 itu telah menyebabkan sekitar 150 hingga 200 kapal tanker dilaporkan tertahan di perairan strategis tersebut.
Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab langsung terdampak. Di sisi lain, China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang bersama-sama menyerap hampir 70 persen minyak mentah yang melintas di selat tersebut, berpotensi mengalami kelangkaan pasokan dalam waktu dekat.
Dampaknya sudah mulai terasa di pasar global. Harga energi dilaporkan melonjak tajam, dengan kenaikan paling signifikan terjadi pada harga gas alam.
Di Eropa, harga gas melonjak hampir 50 persen, sementara di Asia naik hampir 40 persen, menyusul QatarEnergy yang menghentikan produksi LNG setelah fasilitasnya diserang.
Penutupan Selat Hormuz bukan keputusan yang diambil dalam kekosongan. Penasihat senior panglima tertinggi IRGC, Brigadir Jenderal Ebrahim Jabbari, menyebut langkah ini sebagai respons langsung atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Eskalasi bermula dari serangkaian serangan udara gabungan AS-Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran termasuk ibu kota Teheran, menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel sekaligus menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: