Mitigasi Risiko Fiskal, Pemerintah Didorong Reaktivasi Insentif Kendaraan Listrik
Kredit Foto: Istimewa
Kunci pada Daya Beli
Sementara, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, menekankan tanpa dukungan kebijakan, pertumbuhan pasar EV mungkin hanya akan stagnan di kisaran 5 hingga 10 persen.
Ia menyebut daya tarik kendaraan listrik sangat bergantung pada kemampuan bayar masyarakat.
“Pangsa pasar kuncinya ada di kemampuan membayar."
"Kalau pembiayaannya tidak menarik, masyarakat sulit beralih,” kata Yayan kepada Warta Ekonomi.
Berdasarkan kajiannya, peralihan ke EV secara bertahap dapat menghasilkan penghematan BBM nasional sekitar 10 hingga 15 persen.
Meski populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga pertengahan 2025 baru mencapai 252.593 unit, para ahli sepakat keberlanjutan insentif adalah keharusan.
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Membebani APBN, Pengamat Dorong Percepatan Kendaraan Listrik
Joshua Pasaribu menyarankan agar ke depan stimulus diberikan secara lebih presisi.
“Solusi terbaik bukan kembali ke subsidi luas, melainkan insentif yang lebih presisi untuk model dengan kandungan lokal tinggi, pembeli pertama, serta armada dengan penggunaan intensif,” papar Joshua. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait:
Advertisement