Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tak Impor Beras, RI Masuk Era Swasembada Plus! Kepala Bapanas: Presiden Kita Hebat!

Tak Impor Beras, RI Masuk Era Swasembada Plus! Kepala Bapanas: Presiden Kita Hebat! Kredit Foto: Antara/Adiwinata Solihin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada pangan, khususnya beras, di tengah ancaman krisis pangan global akibat El Nino. Kondisi ini dinilai menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan saat banyak negara menghadapi tekanan pasokan.

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia bahkan telah masuk tahap “swasembada plus”. Menurutnya, capaian ini ditandai dengan tidak adanya impor beras medium sepanjang tahun berjalan.

"Negara ini tidak impor beras medium berarti swasembada sempurna. Kalau ada swasembada plus, ya ini, di tahun ini," kata Amran.

Ia menegaskan target tersebut tercapai lebih cepat dari rencana awal pemerintah.

Pencapaian tersebut disebut merupakan bagian dari kebijakan pangan yang dijalankan pemerintahan Prabowo Subianto. Amran menilai program penguatan sektor pangan mampu mendorong peningkatan produksi dalam waktu singkat.

"Ini dicapai hanya dalam waktu 1 tahun dari rencana Bapak Presiden 4 tahun," ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan percepatan signifikan dalam agenda swasembada pangan nasional.

Selain beras, pemerintah juga mengklaim sejumlah komoditas strategis lain telah mencapai swasembada. Komoditas tersebut meliputi telur ayam ras, daging ayam, hingga jagung pakan.

"Presiden kita hebat. Capaian hari ini pangan aman, beras yang mendominasi," kata Amran.

Ia menambahkan minyak goreng Indonesia bahkan telah menjadi bagian dari pasokan global.

Dominasi beras dalam konsumsi masyarakat menjadi alasan utama komoditas ini dijadikan tolok ukur ketahanan pangan. Data Pola Pangan Harapan menunjukkan lebih dari 50 persen konsumsi masyarakat berasal dari padi-padian.

Komposisi konsumsi lainnya mencakup pangan hewani sekitar 12,7 persen serta minyak dan lemak 12,4 persen. Sementara itu, sayur dan buah berkontribusi 6,8 persen dan gula sekitar 4 persen.

Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah optimistis mampu menghadapi dampak El Nino terhadap sektor pangan. Amran menyebut Indonesia berada dalam posisi lebih aman dibanding banyak negara lain.

"Krisis pangan dunia karena ada El Nino, kita bisa hadapi. Indonesia alhamdulillah, negara lain waswas," ujarnya.

Ia menilai ketahanan pangan nasional saat ini cukup kuat untuk menahan tekanan global.

Dari sisi cadangan, stok beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai angka tinggi. Jumlah tersebut telah menyentuh sekitar 4,8 juta ton dan diperkirakan segera menembus 5 juta ton.

"Alhamdulillah, stok Bulog 4,8 juta ton. Maksimal 1 minggu lagi bisa mencapai 5 juta ton," kata Amran.

Ia menyebut angka ini merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan cadangan beras.

Selain itu, kinerja sektor pertanian juga tercermin dari peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP). Indeks NTP tercatat stabil di atas 120 dan bahkan mencapai 126,11 pada periode tertentu.

Produksi beras nasional sepanjang 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton. Angka ini melampaui kebutuhan konsumsi tahunan yang berada di kisaran 31,16 juta ton.

Baca Juga: Stok Beras RI Cetak Rekor 4,72 Juta Ton, Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Kuat

Hal serupa juga terjadi pada komoditas protein hewani seperti daging ayam dan telur ayam ras. Produksi kedua komoditas tersebut disebut masih lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi nasional.

Sementara itu, jagung pakan juga tidak lagi bergantung pada impor setelah produksi dalam negeri meningkat. Sepanjang 2025, produksi jagung mencapai 16,16 juta ton dengan kebutuhan sekitar 15,23 juta ton.

Capaian ini menunjukkan adanya keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pangan nasional. Namun, keberlanjutan kondisi tersebut tetap bergantung pada stabilitas iklim dan kebijakan ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement