Pengamat: Eksplorasi dan Kemitraan jadi Kunci Daya Saing Ketahanan Energi Indonesia
Kredit Foto: Ist
Pengamat migas Benny Lubiantara menilai transformasi strategis yang dijalankan Pertamina menjadi langkah penting dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan transisi energi global. Menurutnya, Indonesia memerlukan pendekatan yang lebih agresif dan adaptif agar mampu bersaing dalam menarik investasi energi di tingkat global.
Dalam diskusi bertajuk “Peningkatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional Melalui Transformasi Strategis Pertamina” pada Selasa (19/5/2026), Benny memaparkan bahwa sektor energi nasional saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah tren penurunan produksi minyak nasional yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Ia menjelaskan lifting minyak Indonesia turun dari sekitar 1,5 juta barel per hari pada era 1990-an menjadi sekitar 600 ribu barel per hari saat ini. Sementara itu, kebutuhan energi nasional terus meningkat sehingga impor minyak Indonesia berada pada kisaran 900 ribu hingga 1 juta barel per hari.
“Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional karena ketergantungan terhadap impor energi semakin besar. Pertamina sebagai perusahaan energi nasional harus mampu menjaga keberlanjutan pasokan energi di tengah tekanan transisi menuju energi rendah karbon,” kata Benny.
Mantan Deputi SKK Migas tersebut menuturkan sebagian besar lapangan migas di Indonesia telah memasuki fase mature fields atau lapangan tua yang secara alami mengalami penurunan produksi. Karena itu, peningkatan produksi memerlukan berbagai upaya, mulai dari eksplorasi wilayah baru hingga penerapan teknologi yang dapat mengoptimalkan produksi dari lapangan yang sudah ada.
Menurut Benny, pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) serta pemanfaatan sumber daya nonkonvensional dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan produksi energi nasional.
Selain itu, ia menilai Pertamina memiliki peluang untuk memperkuat posisinya melalui pengembangan kemitraan global dan penguasaan teknologi. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama strategis maupun aksi korporasi seperti strategic partnership dan merger and acquisition (M&A).
“Pertamina juga bisa membangun strategi baru melalui penguatan kemitraan global, penguasaan teknologi, hingga aksi korporasi seperti strategic partnership dan merger and acquisition (M&A). Kita maunya Pertamina tak hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga memiliki akses global terhadap teknologi dan sumber daya energi baru,” ujarnya.
Baca Juga: Bioenergi Berpotensi Serap 150 Ribu Tenaga Kerja, Pangkas Emisi 12 Juta Ton CO2
Di sisi lain, Benny menilai keberhasilan transformasi energi nasional juga membutuhkan dukungan kebijakan yang kondusif. Ia menyoroti sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian, antara lain reformasi fiskal sektor migas, dinamika tren government take global, persaingan investasi pada era Net Zero Emission (NZE), serta peningkatan kemudahan berusaha.
Ia berharap pemerintah dapat mempercepat proses perizinan dan pelaksanaan proyek-proyek energi agar peluang investasi dapat dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, efisiensi birokrasi akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing sektor energi Indonesia.
“Transformasi strategis Pertamina harus berjalan beriringan dengan transformasi regulasi pemerintah. Kombinasi antara penguatan investasi, eksplorasi masif, kemitraan strategis, dan perbaikan iklim usaha. Saya yakin hal ini akan menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memastikan proses transisi energi Indonesia tetap berjalan berkelanjutan,” kata Benny.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: