BPJS Kesehatan Ketar-Ketir, Biaya Penjaminan Naik Hampir Dua Kali Lipat
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
BPJS Kesehatan mencatat beban pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus meningkat seiring naiknya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat dan inflasi medis. Nilai beban penjaminan JKN melonjak dari Rp90,3 triliun pada 2021 menjadi Rp158,8 triliun pada 2023.
Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, Inka Chaditiany, mengatakan lonjakan tersebut mencerminkan tren kenaikan biaya pelayanan kesehatan yang terus terjadi dari tahun ke tahun dan menjadi tantangan bagi seluruh penyelenggara jaminan kesehatan.
“Jadi peningkatannya ini cukup drastis. Ini kita lihat dari tahun ke tahun, tidak mungkin turun biaya pelayanan kesehatan itu, selalu meningkat,” ujar Inka dalam webinar Health Insurance in the Era of Cost Sharing, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, tekanan biaya tidak hanya dihadapi BPJS Kesehatan, tetapi juga perusahaan asuransi komersial. Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan membuat seluruh penyedia jaminan kesehatan menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan.
Ia mengungkapkan, tingginya beban tersebut sejalan dengan besarnya pemanfaatan layanan kesehatan dalam Program JKN. Rata-rata terdapat 725,3 juta kunjungan layanan kesehatan setiap tahun atau sekitar 2 juta kunjungan per hari.
“Kita lihat beban ini tentunya akan mencerminkan betapa besarnya kebutuhan perlindungan kesehatan masyarakat Indonesia atas pelayanan kesehatan,” kata Inka.
Di sisi lain, BPJS Kesehatan mencatat cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 99,02% dari total populasi Indonesia atau sekitar 285 juta jiwa per 1 Juni 2026. Menurut Inka, capaian tersebut menjadi salah satu keberhasilan terbesar sistem jaminan kesehatan nasional dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga: KPK Bongkar Risiko Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Klaim hingga Data Peserta Jadi Sorotan
Baca Juga: BPJS Kesehatan Defisit, Penerapan KRIS Berpotensi Tambah Beban Rumah Sakit
“Kita perlu berbangga sebagai warga Indonesia, di mana populasi cakupan kepesertaan kita ini dapat mencapai lebih dari 90% dalam waktu pencapaian kurang lebih 10 tahun implementasi JKN,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan berikutnya bukan lagi meningkatkan jumlah peserta, melainkan memastikan seluruh peserta memperoleh akses layanan kesehatan yang merata dan berkualitas.
Untuk mendukung hal tersebut, BPJS Kesehatan bekerja sama dengan 23.679 fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan 3.221 fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri