Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Diguncang Isu Kudeta Politis di Tengah Negosiasi dengan Amerika, Khamenei Jadi Target

Iran Diguncang Isu Kudeta Politis di Tengah Negosiasi dengan Amerika, Khamenei Jadi Target Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Internal Iran kembali menjadi sorotan di tengah berlangsungnya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Doha, Qatar. Hal ini menyusul adanya isu terkait upaya penekanan pengaruh dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei di Teheran.

Anggota Parlemen Iran, Kamran Ghazanfari melontarkan tuduhan adanya upaya yang ia sebut sebagai "kudeta politik" terhadap kepemimpinan tertinggi negara dari Teheran. Menurutnya, hal tersebut tengah dilakukan oleh sejumlah pihak di sekitar Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Baca Juga: Dihadiri Pejabat Tinggi dari 40 Negara, Iran Bocorkan Sejumlah Agenda di Pemakaman Ali Khamenei

"Pezeshkian dan orang-orang di sekitarnya sedang memperkuat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan mengurangi peran pemimpin tertinggi serta parlemen," ungkapnya di X, dikutip Kamis (2/7).

Ghazanfari mengeklaim bahwa sejumlah pihak di sekitar presiden tengah berupaya mengurangi pengaruh dari Khamenei. Hal itu dilakukan dengan memperkuat posisi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan secara bertahap dan berpotensi mengubah struktur kekuasaan yang selama ini berlaku di Republik Islam Iran.

"Mereka telah menyusun rencana untuk menyingkirkan kepemimpinan sistem. Rencana mereka adalah menjadikan dewan sebagai satu-satunya lembaga pengambil keputusan. Ini adalah semacam kudeta politik yang mereka jalankan sedikit demi sedikit. Rakyat harus tetap bersiaga untuk menggagalkan konspirasi ini," kata Ghazanfari.

Selain menuding adanya perubahan arah politik, ia juga mengklaim terdapat upaya sistematis untuk mengurangi aktivitas berbagai kegiatan publik yang selama ini identik dengan kelompok pendukung kepemimpinan tertinggi Iran.

Ia mengeklaim sejumlah penceramah agama dan pembaca syair duka mendapat tekanan agar tidak menghadiri acara-acara malam yang biasa digelar di berbagai wilayah.

"Sejumlah besar uang digunakan untuk mencegah para pembaca syair duka dan penceramah menghadiri pertemuan-pertemuan malam," ujarnya.

Ghazanfari juga menuding telah diterbitkan instruksi kepada organisasi lokal agar tidak lagi memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

Selain itu, ia mengklaim parlemen praktis tidak menjalankan aktivitasnya selama sekitar empat bulan sehingga anggota legislatif tidak memiliki ruang untuk menyampaikan penolakan terhadap apa yang disebutnya sebagai upaya kudeta politik.

"Sebuah surat telah dikirim kepada Basij yang menginstruksikan agar mereka tidak mendukung pertemuan-pertemuan ini. Parlemen juga secara efektif ditutup selama empat bulan sehingga para anggota tidak dapat memprotes apa yang disebut kudeta politik terhadap kepemimpinan sistem," kata Ghazanfari.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Presiden Masoud Pezeshkian maupun Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Tidak ada pula bukti independen yang dipublikasikan untuk mendukung klaim mengenai adanya upaya "kudeta politik" sebagaimana yang ia sampaikan.

Pernyataan tersebut muncul ketika sedang berlangsungnya upaya negosiasi dari Iran dan Amerika Serikat di Doha, Qatar. Perundingan itu membahas sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, serta keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Ada Kelompok-kelompok Tengah Dibuat Gelisah Jokowi usai Blusukan di Lampung, Kata Projo

Munculnya tuduhan dari salah satu tokoh politik garis keras tersebut menambah dinamika politik domestik salah satu pihak di tengah upaya pemerintah melanjutkan jalur diplomasi dengan Washington. Meski demikian, hingga saat ini tuduhan tersebut masih sebatas klaim yang belum mendapat konfirmasi dari pihak-pihak yang dituding.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar