Mau Hadapi Messi, Cerita Bek Tanjung Verde yang Pakai Kantong Sampah untuk Dijadikan Korden Jendela
Kredit Foto: Ist
Bek kiri Tanjung Verde, Sidny Lopes Cabral (23), mengatakan timnya siap menghadapi Argentina pada babak gugur Piala Dunia.
Menurutnya, para pemain tidak merasa terintimidasi oleh kehadiran Lionel Messi dan memilih fokus menjalankan taktik yang telah disiapkan.
"Sejujurnya, tidak ada yang merasa terbebani. Jika Anda turun ke lapangan dan terus berpikir, 'Oh, itu Messi,' Anda akan kehilangan konsentrasi. Kami fokus pada rencana dan taktik kami sendiri," ujar bek Benfica tersebut.
Meski demikian, Cabral mengaku tetap mengagumi Messi dan berharap dapat mengabadikan momen bersama sang kapten Argentina setelah pertandingan.
"Tentu saja jika dia menyentuh bola, Anda akan menyadari bahwa Anda benar-benar sedang bertanding melawannya. Saya harap saya bisa mendapatkan beberapa foto bagus saat berdiri di sampingnya," katanya.
Cabral merupakan satu dari tujuh pemain dalam skuad Tanjung Verde yang lahir di Rotterdam, Belanda. Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan tanah leluhurnya karena kedua orang tuanya berasal dari Pulau Santiago, Tanjung Verde.
"Orang tua saya berasal dari Pulau Santiago dan pindah ke Belanda saat berusia 17 tahun. Di Rotterdam, ada wilayah yang hampir seluruh warganya adalah orang Tanjung Verde. Atmosfer di dalam tim saat ini sangat luar biasa, kami selalu menari dan bersenang-senang, rasanya seperti sedang berlibur," ujarnya.
Perjalanan Tanjung Verde di Piala Dunia disebut sejalan dengan kisah karier Cabral yang penuh perjuangan. Sebelum menembus skuad Benfica dan tampil di Liga Champions, pemain berusia 23 tahun itu sempat bermain di kasta kelima Liga Jerman bersama Rot-Weiss Erfurt.
"Saat bermain di kasta kelima Jerman, cuacanya sangat dingin dan gaji saya hanya 850 poundsterling (sekitar Rp17 juta) per bulan. Saya bahkan terpaksa menggunakan kantong sampah sebagai tirai jendela (baca: korden)," kenangnya.
Cabral mengatakan masa sulit tersebut tidak pernah mengubah tekadnya untuk menjadi pesepak bola profesional dan membahagiakan keluarganya.
"Saya selalu berkata kepada ibu saya, 'Saya akan menjadi pesepak bola profesional dan ibu tidak perlu bekerja lagi.' Sepak bola adalah hidup dan tekad saya, bahkan di hari-hari tersulit sekalipun," tuturnya disitat dari The Guardian.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: