Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Atasi Penumpukan Beras di Gudang Bulog, Pengamat IPB Tawarkan Skema Close Loop

Atasi Penumpukan Beras di Gudang Bulog, Pengamat IPB Tawarkan Skema Close Loop Kredit Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Polemik kualitas Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Perum Bulog masih menjadi sorotan publik. Selain adanya penumpukan CBP, kualitas beras yang disimpan di gudang Perum Bulog disinyalir telah berusia lebih dari satu tahun sehingga dapat dinyatakan tidak layak dikonsumsi.

Pengamat ekonomi pertanian stitut Pertanian Bogor (IPB), M. Firdaus menyebutkan kampusnya pernah mengusulkan skema penyerapan gabah melalui close loop. Diketahui, skema close loop yaitu model kemitraan rantai pasok dari hulu ke hilir, sehingga menghubungkan petani dengan pemasok sarana produksi, pembeli siaga (off-taker), perbankan, dan teknologi untuk memastikan kepastian pasar dan harga yang layak.

“Ada satu inovasi yang sebetulnya beberapa tahun lalu itu sudah disampaikan untuk Bulog melaksanakan, yaitu namanya kemitraan Mitra Tani gitu ya. Jadi kita bikin close loop, harusnya kan semua padi atau gabah itu pasti masuk ke penggilingan, jadi nggak repot gitu loh,” ujar Firdaus saat dihubungi Warta Ekonomi, Selasa (7/7/2026).

Firdaus menjelaskan, jika skema close loop ini diberlakukan, Perum Bulog dapat melakukan penyerapan gabah dan beras melalui skema kontrak sedari awal dengan petani. Peran Bulog sebagai off-taker dapat memastikan kualitas mutu beras semenjak produksi berjalan dari hulu.

“Sebetulnya sudah jalan di beberapa daerah ya seperti Banyuwangi, ya kemudian yang SRG ya atau Sistem Resi Gudang, di Metro (Lampung), kemudian Wonogiri gitu ya, Cianjur itu sudah jalan, tapi kan dengan fasilitas SRG ya. Nah sebetulnya Bulog bisa melakukan kontrak di awal sebagai offtaker, jadi close loop gitu ya, sehingga nanti tentu Bulog itu bisa mendapatkan produk beras yang fresh dari petani gitu ya,” ungkap Firdaus.

Lebih lanjut, Firdaus menuturkan skema Close Loop ini juga efektif apabila musim tanam petani menghadapi paceklik. Skema ini, lanjut Firdaus, jauh lebih efektif karena dapat memastikan pengurangan impor yang justru kualitas berasnya bukan yang terbaik.

Baca Juga: Daripada Beras Bulog Turun Mutu, CORE Sarankan Anggaran Dialihkan ke Irigasi Modern

Baca Juga: Bulog Komitmen Percepat Penanganan Gangguan Hama di Gudang Karawang

“Nah dilemanya kan memang ada tahun tertentu yang kita kan memang kekurangan (stok beras) ya, sehingga harus impor, dan itu pasti harga yang masuk kalau udah impor itu kan berasnya bukan yang the best ya. Jadi sekali lagi sebetulnya inovasinya ya di close loop aja, dan itu Bulog sebetulnya sudah (melaksanakan),” jelas Firdaus.



Lebih lanjut, menurut Firdaus, skema Close Loop ini sudah diusulkan oleh peneliti IPB sejak 2021.

“Sebetulnya Bulog punya divisi Mitra Tani itu sehingga dari awal produksi beras itu bisa dipetakan dan itu kita sudah rekomendasikan di tahun 2021,” ungkap Firdaus.

Kendati demikian, Firdaus menyoroti kebijakan penyaluran beras oleh Perum Bulog yang selalu tersendat dikarenakan ketidakpastian pemetaan kualitas, yang diduga, tanpa skema Close Loop tersebut.

“Karena kalau beras ya memang harusnya sih setahun itu udah pasti keluar ya dari gudang gitu ya, tapi seringkali tadi karena memang supply-nya tidak dari awal dirancang sebagai Close Loop, ya bisa jadi kan nggak nggak ada juga gitu ya, sehingga yang lama masih tersimpan begitu,” katanya.

Diketahui sebelumnya, Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto dalam rapat dengar pendapat bersama Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026, menyebutkan sekitar 1,3 juta ton dari total 5 juta ton stok beras yang dikelola Bulog telah berusia lebih dari satu tahun. Untuk itu, Titiek bahkan mengatakan, sebaiknya stok CBP yang berusia lebih dari satu tahun, atau sudah berwarna putih tua, digunakan menjadi pakan ternak saja dibandingkan menjadi bantuan pangan karena tak layak konsumsi.

Di sisi lain, Titiek turut mengapresiasi pengelolaan stok di GKP Banjarbaru yang dinilai berjalan baik. Menurutnya, perputaran stok beras di gudang tersebut relatif cepat, dengan masa simpan paling lama sekitar empat bulan, sehingga beras dari petani dapat segera diproses dan kembali disalurkan ke pasar.

“Mudah-mudahan dengan adanya perbaikan dan penguatan gudang ini, kapasitas penyimpanan beras dapat semakin meningkat, dengan kualitas yang juga semakin baik,” tambah Titiek.

Hal tersebut diungkapkan Titiek saat meresmikan Gudang Komoditas Pangan (GKP) Perum BULOG kapasitas 3.500 ton di Kompleks Pergudangan Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Jumat lalu (3/7/2026). Peresmian ini menjadi bagian dari agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI bersama Wakil Ketua dan Anggota Komisi IV DPR RI untuk meninjau kesiapan infrastruktur pangan di daerah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra