Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

B50 Dimulai, Jalan Panjang Indonesia Menuju Swasembada Energi

B50 Dimulai, Jalan Panjang Indonesia Menuju Swasembada Energi Kredit Foto: Istihanah

Transisi Menuju Penyaluran Penuh

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan distribusi B50 telah mulai berjalan sejak 1 Juli 2026 di sejumlah wilayah. Hingga hari peluncuran, lebih dari separuh jaringan SPBU Pertamina telah menyalurkan bahan bakar dengan campuran biodiesel 50 persen.

"Oh, emm... 57% dari SPBU-nya Pertamina sudah ada" ungkapnya.

Menurut Eniya, distribusi awal B50 tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi telah menjangkau sejumlah wilayah di Pulau Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.

"Lebih Jawa, Sumatera, terus sebagian Sulawesi ada, jadi mulai menyebar. Tapi Pertamina sudah melaporkan tadi bahwa 57% sudah tersalurkan," tambahnya.

Pemerintah menetapkan masa transisi karena masih terdapat stok B40 yang harus diserap terlebih dahulu oleh rantai distribusi nasional. Dengan mekanisme tersebut, perubahan spesifikasi bahan bakar dapat berjalan tanpa mengganggu pasokan energi kepada masyarakat.

"Iya, karena memang kita tanya dari badan usaha yang terutama paling besar kan memang Pertamina. Pertamina perlu berapa bulan menyelesaikan stok B40? Nah, jawabannya adalah 2 bulan. Dan untuk yang B-BBM yang lain kan ada 34 badan usaha blending-nya itu memerlukan waktu 3 bulan. Makanya kita tertulis di Kepmen kan ada masa transisi itu," sambungnya.

Selama masa transisi berlangsung, penyaluran B50 akan terus diperluas hingga seluruh jaringan distribusi siap menerapkan campuran biodiesel baru secara penuh.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan implementasi B50 berlaku secara nasional, tetapi penerapan penuh dilakukan setelah masa transisi selesai.

"Nasional tapi secara full-nya itu dalam waktu setelah 30 September. Karena ini kan masih ada sisa B40 yang harus dihabiskan," ucapnya.

Dengan skema tersebut, pemerintah menargetkan implementasi penuh B50 berjalan mulai 2027 setelah seluruh proses transisi dan penyesuaian rantai pasok selesai.

Di balik optimisme pemerintah terhadap implementasi B50, masih terdapat pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan, terutama terkait ketersediaan bahan baku pendukung produksi biodiesel.

Baca Juga: Bahlil Sebut B50 Berpotensi Hemat Devisa Rp170 Triliun

Salah satu tantangan utama adalah pemenuhan kebutuhan metanol. Bahan baku ini diperlukan dalam proses produksi fatty acid methyl ester (FAME), komponen utama biodiesel yang akan dicampurkan ke dalam solar.

Seiring meningkatnya kadar campuran biodiesel menjadi 50 persen, kebutuhan metanol nasional juga ikut meningkat. Pemerintah memperkirakan kebutuhan metanol untuk mendukung program B50 mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun.

Namun, kapasitas produksi domestik saat ini masih jauh dari kebutuhan tersebut. Produksi metanol dalam negeri baru berada di kisaran 600 ribu ton per tahun, sehingga sebagian kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan agar manfaat ekonomi dari B50 dapat lebih optimal.

"Nah metanol ini, ini yang dibutuhkan 2,5 juta kira-kira. Tahun depan kita perlu 2,5 juta tapi produksi domestik itu baru sekitar 600 ribuan jadi kita masih perlu impor. Ini harus dibuat di dalam negeri," tambahnya.

Pemerintah tidak ingin ketergantungan terhadap impor metanol berlangsung dalam jangka panjang. Sebab, peningkatan penggunaan biodiesel sebagai bagian dari strategi ketahanan energi akan lebih optimal apabila seluruh rantai pasok dapat dibangun di dalam negeri.

Untuk itu, pemerintah menyiapkan pengembangan industri metanol nasional melalui dua proyek besar. Proyek pertama berada di Bojonegoro, Jawa Timur, dengan memanfaatkan gas alam sebagai bahan baku. Sementara proyek kedua dikembangkan di Kalimantan Timur melalui hilirisasi batu bara berkalori rendah atau low rank coal dengan teknologi gasifikasi.

"Bojonegoro sama di Kalimantan kan. Kalau Bojonegoro kan yang pakai model apa dari gas itu prosesnya. Kalau yang di Kalimantan kan low rank coal jadi gasifikasi pakai syngas, syngas jadi metanol. Nah itu bisa."

Saat ditanya mengenai teknologi yang digunakan di proyek Bojonegoro, Eniya menjelaskan proyek tersebut akan menggunakan gas alam melalui proses steam reforming.

"Pakai gas alam. Pakai gas alam, pakai steam reforming ya kalau nggak salah ya istilah teknologinya," tambahnya.

Pembangunan industri metanol menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program biodiesel nasional. Sebab, peningkatan campuran biodiesel tidak hanya membutuhkan kesiapan industri FAME, tetapi juga kepastian pasokan bahan baku pendukung.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra