Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

B50 Dimulai, Jalan Panjang Indonesia Menuju Swasembada Energi

B50 Dimulai, Jalan Panjang Indonesia Menuju Swasembada Energi Kredit Foto: Istihanah

Peluang Surplus Solar dan Pengembangan Avtur

Selain mendorong pemanfaatan biodiesel berbasis sawit, pemerintah juga melihat adanya peluang perubahan struktur pasokan energi nasional setelah optimalisasi kilang dalam negeri berjalan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan peningkatan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri berpotensi membuat pasokan solar nasional mengalami surplus.

"Memang di dalam hitungan kita dengan Pertamina... ke depan mungkin akan terjadi surplus. Kenapa? Karena dengan optimalisasi terhadap kilang kita yang ada di Kalimantan Timur itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter... Maka akan terjadi surplus. Surplusnya itu diperkirakan... di antara 3 sampai 4 juta," jabarnya.

Menurut Bahlil, surplus tersebut tidak akan dibiarkan menjadi kelebihan pasokan. Pemerintah menyiapkan langkah lanjutan dengan mendorong pembangunan industri avtur nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar pesawat.

"Nah, ini kita tahap berikutnya adalah kita akan mendorong untuk membangun Avtur," katanya.

Dengan demikian, strategi ketahanan energi pemerintah tidak berhenti pada pengurangan impor solar melalui B50. Pemerintah juga mulai memperluas agenda hilirisasi energi ke berbagai jenis bahan bakar yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Menuju Implementasi Penuh 2027

Pelaksanaan mandatori B50 pada 2026 menjadi fase awal sebelum kebijakan tersebut berjalan penuh pada tahun berikutnya. Pemerintah memperkirakan kebutuhan biodiesel akan terus meningkat seiring penerapan B50 secara menyeluruh.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan implementasi tahun ini masih berada dalam masa penyesuaian karena program baru berjalan pada pertengahan tahun.

"Kan ini kan tinggal 50% karena ini kan sudah tinggal 6 bulan. Jadi 6 bulan ini kan masa di mana transisi 2 bulan, jadi tinggal sesuai dengan kemampuan aja. Yang penting adalah kita sudah mulai meluncurkan B50. Nanti on-pass-nya itu mulai start Januainya itu 2027. Kalau ini kan kita masuk di pertengahan tahun."

Sementara itu, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman memastikan pemerintah telah menyiapkan alokasi volume untuk mendukung implementasi B50.

"Kalau apa B50? B50 kan tadi sudah diumumkan Pak Menteri, 38 sampai 40 juta KL totalnya," katanya.

Pemerintah juga masih membuka ruang penyesuaian terhadap volume biodiesel mengikuti perkembangan konsumsi solar nasional dan kemampuan produksi industri.

Ke depan, keberhasilan B50 tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemerintah meningkatkan penggunaan biodiesel, tetapi juga oleh kesiapan seluruh rantai pasok energi nasional. Mulai dari produksi FAME, ketersediaan metanol, kesiapan distribusi, hingga pengembangan industri pendukung.

Implementasi B50 memperlihatkan perubahan arah kebijakan energi Indonesia. Biodiesel tidak lagi hanya menjadi program pengurangan emisi, tetapi menjadi bagian dari strategi memperkuat kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik.

Namun, tantangan terbesar masih berada pada kemampuan membangun industri hulu secara berkelanjutan. Ketergantungan terhadap impor metanol menjadi pengingat bahwa transisi energi tidak cukup hanya dengan meningkatkan penggunaan energi terbarukan, tetapi juga membutuhkan pembangunan ekosistem industri dari hulu hingga hilir.

Dengan dimulainya B50, pemerintah membuka jalan menuju peningkatan campuran biodiesel berikutnya. Akan tetapi, keberhasilan menuju tahap selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia memastikan pasokan bahan baku, memperkuat industri domestik, dan menjaga kelancaran distribusi energi nasional.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra