Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Satelit NASA Pantau Ribuan Titik Panas di Kalimantan Barat

Satelit NASA Pantau Ribuan Titik Panas di Kalimantan Barat Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.774 titik panas terpantau di Kalimantan Barat dalam 24 jam terakhir berdasarkan citra satelit National Aeronautics and Space Administration (NASA). Dari jumlah itu, 273 titik berkategori kepercayaan tinggi, 2.420 kepercayaan menengah, dan 81 kepercayaan rendah.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemantauan dilakukan melalui satelit NASA NOAA-20, NASA SNPP, dan Terra Aqua. Ia menyebut jumlah titik panas berkepercayaan tinggi meningkat dibanding hari sebelumnya, namun angka tersebut belum final.

"Data hotspot perlu dikonfirmasi dari hasil peninjauan lapangan dan pemantauan patroli udara," kata Berton dalam konferensi pers daring, Minggu (23/8/2026).

Luas indikatif lahan terbakar di Kalimantan Barat tercatat 38.310 hektare per 19 Agustus 2026, tertinggi di antara enam provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kabut asap membuat kualitas udara di provinsi itu umumnya berada pada kategori tidak sehat. Jarak pandang turun di bawah satu kilometer di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Ketapang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan intensitas ringan turun di sebagian Kalimantan Barat pada 23-29 Agustus 2026. Meski begitu, potensi kemudahan terjadinya karhutla pada periode yang sama tetap perlu diwaspadai.

Berton menegaskan penanganan tidak berhenti pada pemadaman titik api yang sudah muncul.

"Fokus kami bukan hanya untuk memadamkan api yang sudah muncul, tetapi mencegah perluasan kebakaran, melindungi masyarakat dari dampak asap, dan memastikan setiap titik yang terdeteksi segera diverifikasi serta ditangani," ujarnya.

Pemerintah mengerahkan 10.010 personel Satuan Tugas (Satgas) Darat di provinsi tersebut, terdiri atas unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), swasta, dan unsur lainnya.

Baca Juga: Hari ke 8, BNPB Catat 53.971 Rumah Rusak Akibat Gempa M7,7 Flores

Baca Juga: Korban Meninggal Gempa NTT Bertambah Jadi 91 Orang

Baca Juga: Pengungsi Gempa NTT Tembus 161 Ribu, ISPA Capai 3.721 Kasus

Dari udara, 11 unit armada dioperasikan, meliputi tiga unit patroli udara, lima helikopter water bombing, dan potensi penambahan tiga unit. Teknologi modifikasi cuaca (TMC) dijalankan pada 22-23 Agustus menyusul adanya potensi pertumbuhan awan hujan.

Meski demikian, Berton mengingatkan operasi udara bukan tulang punggung pemadaman.

"Heli water bombing bukan merupakan operasi utama, hanya merupakan pendukung operasi darat," tutupnya.

Di sisi penegakan hukum, Dinas Lingkungan Hidup bersama instansi terkait di Kalimantan Barat melakukan pengawasan kepatuhan korporasi, penyegelan lokasi lahan terbakar, penerapan sanksi administratif, hingga evaluasi dan ancaman pencabutan izin usaha. Pengawasan izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) telah dilakukan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dian Ihsan