Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, bagi Partai Amanat Nasional (PAN) dikarenakan adnaya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan menteri bidang ekonomi Presiden Joko Widodo. Yang mana hingga siang tadi rupiah bergerak di level Rp14.920 per dolar Amerika.
Wakil Ketua Umum PAN, Didik J Rachbini, mengatakan banyak sekali kebijakan dari menteri Presiden Jokowi yang sebenarnya justru menjadikan keadaan rupiah lebih buruk. Salah satu penyebabnya yakni defisit neraca perdagangan yang terjadi sejak 2015 silam, yang dikarenakan nilai ekspor lebih rendah dibanding impor. Padahal, di era Soeharto tidak pernah mengalami defisit perdagangan.
"Defisit dari perdagangan terjadi sangat besar, yang tidak pernah terjadi pada zaman Soeharto, 30 tahun itu surplus terus," ujarnya di Jakarta, Selasa (4/9/2019).
Ia menjelaskan, untuk menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus naik, pemerintah harus meningkatkan ekspor untuk menambah devisa. Selain itu, pemerintah harus mengurangi impor.
"Memaksimalkan ekspor, enggak boleh boros dengan impor, sekarang impor boros tidak ditangani dengan baik," katanya.
Didik menyatakan salah satu langkah yang keliru dilakukan pemerintahan Jokowi adalah melakukan impor beras sebanyak dua juta ton. Kebijakantersebut diambil oleh Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, pada awal tahun ini. Kebijakan itu sama saja dengan mencongkel keberadaan Jokowi secara perlahan dan menjadikan keadaan ekonomi Indonesia semakin buruk.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Irfan Mualim
Editor: Irfan Mualim
Tag Terkait: