Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Diprediksi Masih Tertekan, Usai Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

        IHSG Diprediksi Masih Tertekan, Usai Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Kamis (4/6/2026) di tengah pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko sovereign Indonesia setelah Moody’s memberikan outlook negatif terhadap Danantara Investment Management. Pelaku pasar memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 5.880-6.000.

        Tekanan terhadap pasar saham domestik muncul setelah IHSG ditutup anjlok 4,11% atau 254,36 poin ke level 5.941,07 pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelemahan tersebut membawa indeks ke titik terendah sejak April 2025.

        Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai pelemahan IHSG dipicu oleh depresiasi rupiah yang menyentuh level Rp17.930 per dolar AS dan bahkan telah mencapai Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi hari. Sentimen negatif juga datang dari outlook Moody’s terhadap Danantara Investment Management yang mengikuti peringkat dan outlook sovereign Indonesia.

        Tekanan serupa juga disoroti Kiwoom Sekuritas. Dalam risetnya, Kiwoom menyebut pasar menaruh perhatian besar terhadap penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap Danantara. Meskipun Moody’s, Fitch, dan S&P masih memberikan peringkat investment grade, ketiga lembaga tersebut menegaskan kualitas kredit Danantara sangat bergantung pada dukungan pemerintah.

        Moody’s memberikan outlook negatif yang mengikuti outlook sovereign Indonesia. Sementara itu, S&P menegaskan setiap penurunan peringkat kredit Indonesia akan berdampak langsung terhadap peringkat Danantara.

        Baca Juga: IHSG Jeblok, Purbaya: Mungkin Ketakutan Jangka Pendek Saja

        Baca Juga: IHSG Ditutup Anjlok 4,11% Usai Outlook Negatif Danantara dan Rupiah Sentuh Rp17.966

        Menurut Kiwoom, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap meningkatnya risiko sovereign Indonesia yang mulai merembet ke institusi yang diharapkan menjadi motor investasi nasional. Sentimen itu diperburuk oleh pelemahan rupiah hingga level Rp18.000 per dolar AS serta meningkatnya kehati-hatian pasar menjelang peninjauan indeks oleh MSCI dan FTSE dalam dua pekan mendatang.

        Di sisi lain, arus keluar dana asing masih berlanjut. Kiwoom mencatat investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) kumulatif sebesar Rp55,79 triliun sejak awal tahun.

        Dari eksternal, tekanan datang dari pelemahan bursa saham Amerika Serikat yang mengakhiri reli panjangnya. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,21%, S&P 500 melemah 0,74%, dan Nasdaq terkoreksi 0,89%.

        Koreksi Wall Street dipicu aksi ambil untung pada saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

        Selain itu, pasar juga mencermati sikap Federal Reserve yang dinilai semakin hawkish. Beige Book The Fed menunjukkan aktivitas ekonomi masih tumbuh moderat, sementara tekanan inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi. Data ADP Employment yang mencatat penambahan 122 ribu lapangan kerja pada Mei dan kenaikan ISM Services PMI menjadi 54,5 turut memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.

        Penguatan dolar AS turut menambah tekanan terhadap aset negara berkembang. Indeks dolar AS (DXY) naik ke 99,52, level tertinggi dalam dua bulan terakhir, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun meningkat ke 4,489%.

        Baca Juga: IHSG Terperosok Lebih dari 5%, Saham Konglomerat Jadi Biang Tekanan

        Baca Juga: Warganet Panik! IHSG Rontok ke 5.977, Rupiah Jebol 17.927 Usai Dadan Dicopot

        Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah, perkembangan penilaian terhadap risiko sovereign Indonesia, serta sejumlah data ekonomi global yang dirilis hari ini sebagai penentu arah perdagangan selanjutnya.

        Untuk perdagangan hari ini, Korea Investment and Sekuritas Indonesia mencermati saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) dengan area support 2.650 dan resistance 3.070, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dengan support 1.675 dan resistance 2.070.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: