Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Hasto Bongkar Simbol Misterius di Film Ghost in the Cell, Soroti Tokoh Koruptor Asal Solo dan Nomor 21061961

        Hasto Bongkar Simbol Misterius di Film Ghost in the Cell, Soroti Tokoh Koruptor Asal Solo dan Nomor 21061961 Kredit Foto: Antara/M Risyal Hidayat
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti sejumlah simbol yang muncul dalam film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar saat menghadiri acara nonton bareng dalam rangka Bulan Bung Karno. Hasto menilai film tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan menyimpan kritik sosial yang sarat makna.

        Menurut Hasto, salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah kemunculan tokoh bernama Prakasa Kitabuming yang digambarkan sebagai seorang pengusaha korup. Karakter tersebut disebut tetap menikmati kemewahan meski sedang menjalani hukuman di dalam penjara.

        Hasto menilai penggambaran tokoh tersebut menjadi sindiran keras terhadap praktik korupsi yang masih terjadi di Indonesia. Ia menyebut kritik yang disampaikan dalam film tersebut dibangun secara cerdas melalui berbagai simbol yang ditampilkan.

        Perhatian Hasto juga tertuju pada latar belakang tokoh Prakasa Kitabuming yang berasal dari Solo. Selain itu, ia menyoroti nomor registrasi tahanan yang digunakan dalam film, yakni 21061961.

        Menurut Hasto, detail tersebut tidak ditampilkan secara kebetulan. Ia menilai Joko Anwar sengaja memasukkan berbagai elemen simbolik yang dapat dibaca sebagai kritik sosial terhadap kondisi bangsa saat ini.

        "Joko Anwar dengan sangat cerdas menyampaikan bagaimana ada pengusaha yang sangat tamak sehingga ketika dia ditangkap di penjara pun karena kasus korupsi, maka pengusaha yang namanya Prakarsa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa, dan kemudian yang kritik sosialnya, dia berasal dari Solo. Nomor registrasinya 21061961, ini sangat simbolik. Maka ini film yang mencerdaskan," kata Hasto.

        Dalam film tersebut, Prakasa Kitabuming digambarkan sebagai narapidana kasus korupsi yang juga terlibat dalam penggundulan hutan. Karakter itu menjadi salah satu representasi kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan dan kerakusan ekonomi.

        Hasto mengatakan publik dapat menangkap berbagai pesan tersembunyi yang disisipkan melalui nama tokoh, asal daerah, hingga identitas tahanan yang muncul dalam cerita. Ia menilai simbol-simbol tersebut mengandung pesan penting mengenai arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

        "Nah Joko Anwar mengingatkan hal itu dan menurut saya ini sangat luar biasa teman-teman wartawan bisa melihat berbagai pesan-pesan dari namanya, dari asalnya, dari nomor registrasi tahanannya, itu bisa melihat bagaimana Indonesia tidak boleh terjadi sebagaimana yang ditunjukkan di dalam film Ghost in the Cell tersebut," ujarnya.

        Lebih jauh, Hasto mengaitkan pesan yang muncul dalam film dengan semangat perjuangan Presiden pertama RI, Soekarno atau Bung Karno. Menurutnya, film tersebut mengingatkan kembali pentingnya melawan berbagai bentuk kapitalisme dan imperialisme yang terus muncul dengan wajah baru.

        Ia menilai pesan moral yang terkandung dalam film masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Karena itu, Hasto bahkan mendorong kader PDIP dan masyarakat untuk menyaksikan film tersebut sebagai bahan refleksi sosial.

        Baca Juga: Roy Suryo Apresiasi Usulan PDIP untuk Akhiri Polemik Ijazah Jokowi

        Menurut Hasto, Bulan Bung Karno seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai moral, idealisme, dan etika dalam kehidupan publik. Ia berharap kritik sosial yang diangkat dalam film dapat menjadi pengingat agar Indonesia tidak mengulangi berbagai praktik yang merugikan rakyat.

        "Maka ini menggugah kita agar Bulan Bung Karno menyadarkan kita semuanya untuk setia pada nilai-nilai moral, setia pada idealisme, setia pada etika di dalam kehidupan bersama karena kita mencita-citakan sesuatu yang besar," imbuhnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: