Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Mentok di 5%, Ini Penjelasan Bank Dunia

        Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Mentok di 5%, Ini Penjelasan Bank Dunia Kredit Foto: Antara/Erlangga Bregas Prakoso
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 5,0% pada 2026 dari 5,1% pada 2025. Perlambatan tersebut dipicu meningkatnya ketidakpastian global, melemahnya permintaan eksternal, terbatasnya ruang fiskal pemerintah, serta perlambatan penciptaan lapangan kerja berkualitas.  

        Dalam laporan Indonesia Economic Prospects Juni 2026 bertajuk Managing Risks, Raising Productivity, Bank Dunia menilai ekonomi Indonesia masih relatif tangguh dibanding banyak negara berkembang lainnya. Namun, sejumlah tantangan domestik dan eksternal diperkirakan akan menahan laju pertumbuhan dalam jangka pendek.  

        Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,0% pada 2026 sebelum meningkat menjadi 5,2% pada 2027 dan 2028. Meski masih berada di level yang relatif stabil, angka tersebut lebih rendah dibanding target jangka panjang yang dibutuhkan untuk mempercepat peningkatan pendapatan masyarakat dan memperluas kelas menengah.  

        Ketidakpastian Global Jadi Faktor Utama

        Bank Dunia menyebut ketegangan perdagangan global dan perlambatan ekonomi dunia menjadi salah satu faktor yang menekan prospek pertumbuhan Indonesia.

        Meningkatnya hambatan perdagangan dan ketidakpastian kebijakan global diperkirakan akan membatasi ekspor, investasi, serta aktivitas manufaktur yang selama ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.  

        Selain itu, lemahnya pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang utama juga berpotensi menekan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.

        Ruang Fiskal Semakin Terbatas

        Faktor kedua yang menjadi sorotan Bank Dunia adalah menyempitnya ruang fiskal pemerintah.

        Laporan tersebut mencatat rasio penerimaan pajak Indonesia hanya mencapai 9,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2025. Pada saat yang sama, defisit fiskal meningkat menjadi 2,9% PDB sehingga membatasi kemampuan pemerintah untuk memberikan stimulus ekonomi yang lebih besar. 

        Baca Juga: Bank Dunia Bongkar Fakta! Setengah Subsidi BBM Pemerintah Dinikmati Orang Kaya

        Baca Juga: Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen di 2027

        Baca Juga: Target Pertumbuhan Ekonomi 6,5% di 2027, Purbaya: Peluangnya Besar Sekali 

        Bank Dunia menilai kondisi tersebut membuat pemerintah perlu lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran dan meningkatkan kualitas belanja negara.

        Produktivitas dan Kualitas Pekerjaan Masih Menjadi Masalah

        Selain faktor global dan fiskal, Bank Dunia juga menyoroti persoalan produktivitas tenaga kerja.

        Meskipun Indonesia berhasil menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru dalam setahun terakhir, hampir separuh pekerjaan tersebut berasal dari sektor dengan produktivitas relatif rendah, seperti pertanian serta akomodasi dan makanan-minuman.  

        Di sisi lain, sektor yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi belum menunjukkan pertumbuhan signifikan.

        Bank Dunia juga mencatat tingkat pengangguran terselubung mencapai 32,7% pada 2025. Selain itu, proporsi pekerja yang memperoleh pendapatan kelas menengah turun dari 14,5% pada 2018 menjadi sekitar 7% pada 2025.  

        Reformasi Jadi Kunci

        Menurut Bank Dunia, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat ditingkatkan apabila pemerintah mampu menjalankan reformasi struktural yang berfokus pada produktivitas.

        Lembaga tersebut merekomendasikan reformasi subsidi energi, peningkatan kualitas investasi publik, serta pembenahan sektor logistik untuk menekan biaya ekonomi dan meningkatkan daya saing nasional.  

        Bank Dunia menilai langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan lapangan kerja yang lebih produktif di tengah perubahan ekonomi global yang semakin cepat.  

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: