Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tak Mudah bagi AS, Iran Minta Syarat Ganti Rugi Perang

        Tak Mudah bagi AS, Iran Minta Syarat Ganti Rugi Perang Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Syarat berat diajukan Iran sebelum kembali membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Teheran meminta persoalan kompensasi atas kerusakan akibat konflik diselesaikan terlebih dahulu sebelum pembicaraan kedua negara dapat dilanjutkan.

        Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, pembayaran ganti rugi atas kerusakan menjadi salah satu syarat penting bagi Iran untuk kembali berunding dengan Washington.

        “Kecuali jika ganti rugi atas pelanggaran kesepahaman diberikan, tidak ada kemungkinan untuk memulai kembali negosiasi,” ujar Araghchi, Minggu (10/8/2026).

        Pernyataan tersebut mempertegas posisi Iran dalam hubungan diplomatik dengan AS. Teheran ingin memastikan adanya konsekuensi atas tindakan militer yang menurut mereka telah melanggar kesepahaman sebelumnya.

        Sikap Iran tersebut juga membuat masa depan Selat Hormuz masih sulit dipastikan. Jalur perairan strategis itu menjadi salah satu titik penting dalam ketegangan antara Teheran dan Washington.

        Sebelumnya, Iran telah mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah tuntutan kepada AS. Di antaranya penghentian ancaman militer, penghentian serangan, penarikan kekuatan militer AS dari sekitar wilayah Iran, serta pencabutan sanksi ekonomi.

        Kini, tuntutan kompensasi kembali ditegaskan sebagai bagian dari posisi Iran dalam menghadapi Washington.

        Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Digitalisasi Penerbitan Akta Kelahiran, Hadirkan Layanan Publik Terintegrasi

        Selat Hormuz sendiri memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi global. Karena itu, ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur tersebut berpotensi berdampak terhadap aktivitas pelayaran dan distribusi energi internasional.

        Dengan belum tercapainya kesepakatan, Selat Hormuz masih menjadi salah satu kartu tekanan Iran dalam menghadapi Amerika Serikat. Kondisi tersebut sekaligus membuat upaya menghidupkan kembali jalur diplomasi kedua negara semakin rumit.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: