Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AS Kirim 10.000 Tentara, Pakar Sebut Invasi Iran Bisa Jadi 'Vietnam 2'

AS Kirim 10.000 Tentara, Pakar Sebut Invasi Iran Bisa Jadi 'Vietnam 2' Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wacana operasi militer darat Amerika Serikat ke Iran dinilai berisiko besar dan berpotensi menjadi kesalahan strategis serius. Sejumlah analis bahkan menyebut skenario tersebut bisa menyeret Washington ke konflik panjang seperti Perang Vietnam.

Profesor studi Amerika dari Renmin University of China, Jin Canrong, menilai opsi invasi darat bukan solusi yang realistis. Ia memperingatkan bahwa langkah tersebut justru bisa menjadi bumerang bagi Amerika Serikat.

"Jika mereka meluncurkan operasi darat skala penuh, itu akan menjadi bencana bagi Amerika Serikat," ujarnya dikutip dari TASS.

Ia menilai jumlah pasukan yang saat ini disiapkan tidak akan cukup untuk menyelesaikan konflik. Bahkan, jika jumlahnya diperbesar secara signifikan, risiko terjebak dalam perang berkepanjangan akan semakin besar.

"Sepuluh ribu tentara Amerika jelas tidak akan mampu menyelesaikan masalah, dan jika mereka mengerahkan ratusan ribu pasukan, mereka akan terjebak dalam kubangan seperti Perang Vietnam," katanya.

Menurut Jin, penambahan pasukan yang dilakukan Washington saat ini lebih bersifat tekanan politik daripada persiapan invasi penuh. Ia menyebut langkah tersebut bertujuan memaksa Iran untuk membuat konsesi dalam konflik yang terus memanas.

"Sebagian besar pengerahan pasukan itu merupakan sinyal politik untuk menekan Iran," ujarnya.

Ia memperkirakan Amerika Serikat telah menambah sekitar 10.000 personel militer di kawasan Timur Tengah. Namun, jumlah tersebut dinilai jauh dari cukup jika tujuan akhirnya adalah menguasai wilayah strategis Iran.

"Bahkan jika mereka nekat melancarkan operasi darat, misalnya untuk merebut Pulau Kharg, akan sangat sulit untuk mempertahankannya," katanya.

"Menyerang dan merebut mungkin mudah, tetapi mempertahankannya akan sangat sulit," lanjutnya.

Jin juga menekankan bahwa kekuatan militer Iran tidak bisa diremehkan, terutama di sektor darat dan rudal. Ia mengingatkan bahwa faktor geografis dan demografi Iran menjadi tantangan besar bagi pasukan asing.

"Iran adalah negara besar dengan luas lebih dari 1,6 juta kilometer persegi dan populasi sekitar 91 juta jiwa, serta memiliki kekuatan darat yang cukup kuat," ujarnya.

Di sisi lain, laporan media Politico menyebut sebagian pejabat senior Amerika sendiri mulai meragukan efektivitas operasi militer terhadap Iran. Bahkan, ada pandangan bahwa opsi invasi darat menjadi satu-satunya cara untuk meraih kemenangan, meski risikonya sangat tinggi.

Konflik ini sendiri bermula sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah kota besar Iran, termasuk Teheran. Gedung Putih berdalih langkah tersebut dilakukan untuk merespons ancaman rudal dan nuklir dari Iran.

Baca Juga: Trump Secara Terbuka Mengakui Ingin Kuasai Ladang Minyak Milik Iran

Serangan tersebut memicu balasan dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Eskalasi yang terus berlangsung hingga kini menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari kata selesai.

Bagi dunia, potensi invasi darat ini bukan sekadar isu militer, melainkan ancaman terhadap stabilitas global. Jika konflik berubah menjadi perang berkepanjangan, dampaknya bisa meluas ke ekonomi, energi, hingga keamanan internasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement