Efek Perang AS-Iran, Dominasi Cina di Asia Tenggara Dinilai Makin Besar
Kredit Foto: Istimewa
Krisis Timur Tengah yang membuat Amerika Serikat (AS) mencurahkan sebagian besar perhatian dan upayanya di kawasan tersebut, berpotensi membuat fokus dari negara adidaya itu beralih dari Asia Tenggara, setidaknya untuk sementara waktu.
Kondisi tersebut berpotensi membuat Republik Rakyat Cina mendapatkan ruang lebih besar untuk menunjukkan dominasinya di kawasan Asia Tenggara.
Bagi sementara pengamat, fokus perhatian AS pada Timur Tengah mengakibatkan hilangnya kekuatan penyeimbang bagi Cina di kawasan Asia Tenggara. Hal ini dinilai berpotensi meningkatkan ketegangan di Laut Cina Selatan (LCS).
Sekelompok pemerhati Cina yang tergabung dalam Forum Sinologi Indonesia (FSI) berpandangan bahwa tindakan asertif dan agresif Cina di LCS yang berada di kawasan Asia Tenggara sebenarnya telah berlangsung dalam kurun waktu yang lebih panjang.
“Dalam dua dasawarsa terakhir, Cina telah bersitegang dengan Vietnam, Indonesia, dan Filipina terkait upaya negara itu menegaskan kepemilikannya atas wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) ketiga negara di atas dengan dalih sembilan garis putus-putus (Nine dash-line),” tutur ketua FSI Johanes Herlijanto dalam seminar “Keketuaan Filipina dan Diplomasi Cina di ASEAN,” di Jakarta.
“Padahal klaim kewilayahan berdasarkan garis putus-putus tersebut oleh pihak negara-negara Asia Tenggara dinilai bertentangan dengan UNCLOS,” kata Johanes Herlijanto yang juga akademisi Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH).
Acara yang dipandu oleh dosen Hubungan Internasional Universitas Presiden, Muhammad Farid, itu menghadirkan Direktur Kerja Sama Politik Keamanan ASEAN Ahmad Shaleh Bawazir, sinolog yang juga dosen politik di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Dr. Klaus Heinrich Raditio, serta peneliti mitra FSI, Dr. Ratih Kabinawa.
Yang menarik dari seminar tersebut adalah cakupan pembahasannya yang tidak melulu berkutat pada isu keamanan. Dalam pemaparan para pembicara, disampaikan bahwa Cina ternyata tidak hanya menunjukkan sikap agresif dalam aspek keamanan, antara lain dengan melakukan strategi grey zone, yaitu menghadirkan gangguan di ZEE negara-negara ASEAN (Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara) melalui pengerahan milisi maritim yang dibayangi unit penjaga pantai Cina.
Namun, Cina juga berupaya menanamkan dominasi terhadap ASEAN melalui jalur-jalur diplomasi. Bahkan ketika keketuaan ASEAN berada di tangan Filipina, negara yang dalam beberapa tahun terakhir ini seringkali menjadi korban strategi grey zone Cina di atas, Cina ditengarai akan tetap berupaya meningkatkan pengaruhnya.
“Bejing seringkali meningkatkan kedekatan bilateralnya dengan anggota ASEAN yang sedang mendapat giliran menjadi ketua dari organisasi multilateral itu,” kata Dr. Ratih Kabinawa, peneliti mitra FSI, dalam pemaparannya.
Baca Juga: Iran Tak Percaya Amerika Serikat, Tegaskan Konflik Belum Usai Meski Ada Gencatan Senjata
Menurut Ratih, strategi yang efektif bagi Beijing untuk meningkatkan pengaruhnya dalam organisasi tersebut adalah melalui upaya memperkuat hubungan bilateral dengan masing-masing anggota ASEAN.
Pertanyaannya, bagaimana Cina melanjutkan upaya untuk memengaruhi agenda ASEAN di saat organisasi ini diketuai oleh Filipina? Pertanyaan itu penting mengingat akhir-akhir ini Filipina seringkali berada dalam ketegangan dengan Beijing sebagai akibat praktik Grey Zone negara itu di ZEE Filipina.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: