Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Nadi Teknologi di Batu Hijau: Strategi AMMAN Merengkuh Logam yang Nyaris Sirna

Nadi Teknologi di Batu Hijau: Strategi AMMAN Merengkuh Logam yang Nyaris Sirna Kredit Foto: AMMAN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tembaga dari Batu Hijau tidak selalu kehilangan nilai ketika harga komoditas turun atau produksi tambang terganggu. Kehilangan nilai juga dapat terjadi jauh sebelum logam menjadi produk akhir: ketika bijih mengalami oksidasi di stockpile, ketika kondisi kimia slurry berubah di pabrik pengolahan, ketika keputusan proses terlambat diambil, hingga ketika sisa peleburan masih menyimpan mineral berharga.

Di Sumbawa Barat, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) mencoba menangkap kembali nilai yang tertinggal tersebut melalui serangkaian teknologi yang bekerja di sepanjang rantai produksi. Sensor kimia membaca kondisi slurry secara real-time, kecerdasan buatan membantu menganalisis jutaan data operasi, teknologi laser memantau karakter material sebelum proses penggilingan, sementara slag concentrator mengambil kembali kandungan tembaga dan emas dari sisa peleburan.

Pada akhirnya, konsentrat yang berhasil dipulihkan akan masuk ke fasilitas hilir untuk diolah menjadi produk bernilai tambah berupa katoda tembaga, emas, perak, selenium, dan asam sulfat.

“Setiap ton bijih yang ditambang menyimpan mineral berharga. Namun, tidak semua mineral tersebut berhasil dipulihkan selama proses pengolahan,” tulis AMMAN dalam publikasi tentang pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan perolehan mineral, Rabu 8/7/2026.

Dalam konteks hilirisasi, ukuran keberhasilan pertambangan tidak lagi hanya dilihat dari jumlah batuan yang dipindahkan dari tambang. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa banyak mineral bernilai yang berhasil dipulihkan, seberapa efisien sumber daya digunakan, serta seberapa besar dampak lingkungan dapat dikendalikan.

Di Batu Hijau, kehilangan nilai dapat terjadi pada beberapa titik utama: saat bijih mengalami perubahan sebelum flotasi, ketika parameter proses belum optimal, dan ketika residu peleburan masih mengandung logam bernilai. Karena itu, AMMAN menempatkan teknologi pada setiap titik kritis tersebut.

Namun, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu. Data tetap membutuhkan manusia yang mampu membaca kondisi lapangan, mengevaluasi rekomendasi sistem, dan mengambil keputusan operasional.

Tahun Transisi Batu Hijau

Tahun 2025 menjadi periode transisi penting bagi operasi Batu Hijau. Di satu sisi, perusahaan menghadapi perubahan karakter tambang; di sisi lain, AMMAN terus mendorong peningkatan nilai melalui teknologi dan hilirisasi.

Dari sisi produksi, terjadi penurunan produksi tembaga dan emas dalam konsentrat dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi tembaga turun dari 394,9 juta pon pada 2024 menjadi 208,9 juta pon pada 2025. Sementara produksi emas dalam konsentrat turun dari 802,7 ribu ons menjadi 102,8 ribu ons.

Penurunan tersebut juga terlihat dari kadar mineral. Kadar tembaga rata-rata bijih yang diolah turun dari 0,65 persen pada 2024 menjadi 0,48 persen pada 2025. Kadar emas turun dari 0,53 gram per ton menjadi 0,36 gram per ton.

Diolah Warta Ekonomi

Namun, angka tersebut tidak dapat dibaca hanya sebagai penurunan kinerja teknologi. Tahun 2025 merupakan masa transisi Batu Hijau menuju Fase 8, ketika aktivitas penambangan masih dipengaruhi proses pengupasan batuan penutup, perubahan urutan penambangan, serta perubahan karakteristik bijih.

Direktur Utama PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau, menjelaskan bahwa peningkatan produksi akan terjadi ketika perusahaan mulai mengambil lebih banyak bijih pada periode berikutnya.

Baca Juga: Dari Perut Bumi Sumbawa, Menggali Harapan untuk Masa Depan Indonesia

“Dalam tiga tahun ke depan terdapat peningkatan produksi, dikarenakan mulai akan lebih banyak mengambil ore,” kata Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/72026).

Perubahan karakter bijih tersebut membuat kemampuan recovery menjadi semakin penting. Ketika kadar logam menurun, setiap mineral yang tidak berhasil dipulihkan berarti nilai yang tertinggal semakin besar dalam rantai proses.

Mengejar Nilai di Titik Kritis Pengolahan

Salah satu tantangan terbesar dalam pengolahan bijih berada pada tahap flotasi. Bijih yang tersimpan di stockpile dapat mengalami oksidasi sebelum diproses. Kondisi tersebut membuat mineral tembaga lebih sulit dipisahkan melalui proses flotasi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim Metallurgy AMMAN mengembangkan penerapan Controlled Potential Sulfidisation (CPS) dengan sensor Oxidation Reduction Potential (ORP).

Sensor ORP berfungsi membaca kondisi kimia slurry secara real-time. Data tersebut membantu menentukan dosis natrium hidrosulfida (NaHS), yaitu reagen yang digunakan untuk membantu proses pemisahan mineral.

Penggunaan NaHS harus dilakukan secara presisi. Dosis yang terlalu rendah dapat menyebabkan mineral tidak pulih secara optimal, sementara dosis berlebih meningkatkan konsumsi bahan kimia tanpa memberikan peningkatan pemisahan mineral yang sebanding.

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra