Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Nadi Teknologi di Batu Hijau: Strategi AMMAN Merengkuh Logam yang Nyaris Sirna

Nadi Teknologi di Batu Hijau: Strategi AMMAN Merengkuh Logam yang Nyaris Sirna Kredit Foto: AMMAN

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengatakan Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemilik sumber daya mineral, tetapi harus mampu mengembangkan kekayaan tersebut melalui ilmu pengetahuan.

“Dari sisi sumber daya, Indonesia adalah pemain utamanya, tetapi kita perlu buktikan bahwa kita bisa mengembangkan sumber daya tersebut dengan ilmu pengetahuan,” kata Brian dalam Seminar dan Konvensi Nasional Badan Keahlian Teknik Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Brian juga mengingatkan risiko middle technology trap, yaitu kondisi ketika suatu negara berhenti pada penguasaan teknologi tingkat menengah dan tidak mampu berkembang menuju kemampuan teknologi yang lebih tinggi.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah menjadi penting untuk memperkuat riset terapan serta sumber daya manusia.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi Sumbawa Barat. Bupati Sumbawa Barat Amar Nurmansyah mengatakan sekitar 80 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah masih bergantung pada sektor pertambangan.

Namun, sektor non-tambang juga menunjukkan pertumbuhan positif, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 7–8 persen per tahun.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB I Gede Putu Aryadi menilai tenaga kerja lokal memiliki peluang besar untuk mengisi kebutuhan keterampilan tingkat menengah dalam industri pertambangan.

“Untuk yang middle skill pasti orang NTB, karena dia lebih efisien. Kalau untuk pekerja asing, bisa kami pantau, karena izin bekerjanya ada, jadi mudah kami pantau keluar masuknya,” kata I Gede Putu Aryadi dalam keterangan yang dimuat Warta Ekonomi pada 31 Agustus 2026.

Dari sisi ekonomi nasional, kajian LPEM FEB UI mencatat aktivitas operasional AMMAN selama periode 2018–2024 memberikan kontribusi sekitar:

  • Rp173,4 triliun terhadap Produk Domestik Bruto nasional

  • Rp67,6 triliun terhadap pendapatan rumah tangga

Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI Uka Wikarya mengatakan dampak ekonomi tersebut muncul melalui rantai pasok yang luas.

“Kegiatan operasional AMMAN menciptakan rangkaian efek berganda yang luas. Misalnya, kebutuhan penyediaan makanan bagi ribuan karyawan turut menghidupkan usaha para petani, peternak, dan penyedia bahan pangan lokal,” ujar Uka.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch Ferdy Hasiman menilai investasi hilirisasi membutuhkan kepastian kebijakan agar manfaat ekonominya dapat berkembang lebih besar.

“Mereka sudah investasi besar untuk hilirisasi, makanya kita harus terus dukung operasi mereka, jangan dibebankan dengan peraturan-peraturan dan kebijakan yang memberatkan. Biar produksi mereka bagus dan multiplier effect mereka itu gede,” kata Ferdy kepada Warta Ekonomi pada 30 Agustus 2026.

Nilai yang Tidak Berhenti di Tambang

Batu Hijau Fase 8 diproyeksikan beroperasi hingga 2030. Pada saat yang sama, AMMAN juga menyiapkan pengembangan Proyek Elang sebagai tahap berikutnya dalam portofolio tambang perusahaan.

Pengalaman meningkatkan recovery, melakukan digitalisasi operasi, memulihkan mineral dari slag, serta membangun fasilitas hilir menjadi modal penting untuk menghadapi fase berikutnya.

Namun, nilai yang tinggal di Sumbawa Barat tidak hanya dapat dihitung dari jumlah katoda, emas murni, investasi, atau transaksi rantai pasok.

Nilai jangka panjang juga berada pada kemampuan manusia memahami proses metalurgi, membaca data sensor, mengevaluasi rekomendasi kecerdasan buatan, mengelola sumber daya, dan memastikan teknologi dapat dipertanggungjawabkan.

Di Batu Hijau, tembaga yang hampir hilang tidak selalu terlihat.

Ia dapat tertinggal dalam bijih yang teroksidasi, slurry yang berubah, slag yang masih menyimpan logam, atau keputusan yang terlambat dibuat.

Sensor ORP membantu membaca perubahan kimia. AIDA mengubah jutaan data menjadi rekomendasi. Laser 3D memantau material sebelum penggilingan. Slag concentrator mengambil kembali mineral dari residu peleburan. Smelter kemudian mengubah konsentrat menjadi katoda tembaga, emas, perak, selenium, dan asam sulfat.

Namun, seluruh teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia.

Pada akhirnya, kekayaan mineral dari perut bumi Sumbawa tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak logam yang berhasil diproduksi, tetapi oleh bagaimana teknologi, pengetahuan, dan tanggung jawab berjalan bersama untuk menciptakan nilai yang bertahan lebih lama.

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra