- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Nadi Teknologi di Batu Hijau: Strategi AMMAN Merengkuh Logam yang Nyaris Sirna
Kredit Foto: AMMAN
Selain menghasilkan tembaga, fasilitas tersebut juga menghasilkan produk samping bernilai seperti emas, perak, selenium, dan asam sulfat.
Smelter AMMAN dirancang untuk mengolah hingga 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun.
Pada kapasitas desain, fasilitas tersebut mampu menghasilkan hingga:
-
220.000 ton katoda tembaga per tahun
-
830.000 ton asam sulfat per tahun
Sementara itu, fasilitas Precious Metals Refinery (PMR) yang terintegrasi dengan smelter dirancang untuk mengolah sekitar 970 ton lumpur anoda per tahun.
Produk desain PMR meliputi:
-
hingga 579 ribu ons emas murni per tahun
-
hingga 1,8 juta ons perak murni per tahun
-
hingga 77 ton selenium per tahun
Total investasi pembangunan smelter dan PMR mencapai sekitar US$1,4 miliar.

Ramp-up Smelter dan Tantangan Hilirisasi
Pembangunan smelter menjadi bagian penting dari upaya AMMAN meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri. Namun, fasilitas tersebut tidak langsung mencapai kapasitas penuh setelah selesai dibangun. Tahap berikutnya adalah proses commissioning dan ramp-up untuk memastikan seluruh sistem berjalan sesuai desain.
Tahap commissioning smelter AMMAN dimulai pada 2024. Produksi anoda tembaga pertama berlangsung pada Februari 2025, disusul produksi katoda pertama pada Maret 2025. Pengiriman perdana katoda tembaga dilakukan pada April 2025, sementara emas murni pertama dihasilkan pada Juli 2025 dan produksi perak murni dimulai pada Oktober 2025.
Pada tahun pertama fase ramp-up, produksi katoda menunjukkan peningkatan bertahap.
Produksi katoda meningkat dari:
-
635 ton pada kuartal I 2025
-
19.170 ton pada kuartal II 2025
-
21.247 ton pada kuartal III 2025
-
38.797 ton pada kuartal IV 2025
Secara keseluruhan, produksi katoda sepanjang 2025 mencapai 79.849 ton. Pada periode yang sama, fasilitas PMR menghasilkan 124.723 ons emas murni.
Direktur Utama PT Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makkasau mengatakan smelter mulai kembali beroperasi pada April 2026 setelah melalui proses perbaikan dan ramp-up. Pada akhir Juni 2026, fasilitas tersebut telah mampu mengolah seluruh produksi tambang.
“Sekitar April 2026 smelter mulai beroperasi, proses ramping up berjalan baik sehingga akhir Juni 2026 kami sudah bisa memproses seluruh produksi tambang,” kata Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Hilirisasi mineral pada akhirnya bukan hanya mengenai keberadaan fasilitas pemurnian. Smelter mengolah konsentrat yang sebelumnya berhasil dipulihkan melalui rangkaian proses panjang di tambang dan pabrik pengolahan.
Karena itu, nilai tambah tidak dimulai ketika tungku smelter dinyalakan, tetapi sejak mineral dibaca, dipisahkan, dipulihkan, dan dikelola secara efisien.
Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah.
Baca Juga: Dari Perahu BBM ke Listrik, Wajah Baru Wisata Geopark Rammang-Rammang
“Kebijakan hilirisasi mineral di dalam negeri merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil pengolahan dan atau pemurnian mineral,” kata Bambang dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI bersama AMNT dan PT Freeport Indonesia, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Tembaga kini menjadi salah satu mineral paling strategis di tengah percepatan elektrifikasi dunia. Logam ini menjadi komponen penting bagi kendaraan listrik, energi terbarukan, jaringan listrik, pusat data, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam studi Copper in the Age of AI: Challenges of Electrification, S&P Global memperkirakan kebutuhan tembaga global akan meningkat sekitar 50 persen, dari 28,3 juta metrik ton pada 2025 menjadi sekitar 42,4 juta metrik ton pada 2040.
Harta Mineral dan Ujian Akuntabilitas
Potensi mineral Indonesia menjadi alasan utama mengapa penguasaan teknologi pengolahan semakin penting.
Berdasarkan Laporan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia per Desember 2024, sumber daya bijih emas primer Indonesia mencapai sekitar 17,2 miliar ton, dengan cadangan sebesar 3,46 miliar ton.
Kandungan logam emasnya diperkirakan setara:
-
12.364 ton pada kategori sumber daya
-
3.444 ton pada kategori cadangan
Untuk komoditas tembaga, sumber daya nasional tercatat sekitar 18,336 miliar ton, dengan cadangan sekitar 2,86 miliar ton.
Besarnya sumber daya tersebut membuat persoalan recovery menjadi semakin penting. Mineral yang berada di bawah tanah tidak otomatis berubah menjadi nilai ekonomi apabila kemampuan pemulihan, pengolahan, pemurnian, dan pengelolaan dampaknya tidak berkembang secara bersamaan.
Pemerintah kemudian mendorong agar mineral tidak hanya berhenti sebagai komoditas mentah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan mempertahankan larangan ekspor untuk sejumlah komoditas mineral, termasuk tembaga.
“Untuk ke depan, kan sudah ada beberapa komoditas yang harus kita tetap pertahankan pelarangannya di antaranya bauksit, kemudian tembaga,” kata Bahlil seusai peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Menurut Bahlil, pembangunan industri dalam negeri menjadi syarat penting dalam transformasi ekonomi.
“Dalam rangka melakukan transformasi ekonomi memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri dalam negeri. Dan industri dalam negeri itu menciptakan nilai tambah, menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno juga menilai mineral kritis memiliki posisi strategis karena berkaitan dengan ketahanan energi.
“Perubahan geopolitik telah menjadikan mineral kritis semakin strategis dan tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertambangan, tapi telah menjadi bagian penting dari ketahanan energi,” kata Tri di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Pada semester I 2026, investasi hilirisasi mineral tercatat mencapai Rp206,5 triliun. Namun, investasi tersebut tidak cukup hanya menghasilkan fasilitas produksi. Pemerintah menekankan bahwa kegiatan pertambangan dan pengolahan mineral tetap harus berjalan berdasarkan good mining practices, termasuk keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, efisiensi energi, reklamasi, pascatambang, serta pengelolaan limbah.
Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional Nunung Nuryartono menilai hilirisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan smelter.
“Hilirisasi bukan sekadar membangun lebih banyak smelter. Hilirisasi adalah membangun kecerdasan dan akuntabilitas pada setiap tahapan rantai nilai industri,” kata Nunung dalam Seminar Internasional Intelligent Manufacturing and Sustainability in Minerals Industries, Kamis (30/7/2026).
Ketika Teknologi Diuji oleh Air dan Tailing
Keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari jumlah katoda tembaga atau nilai ekonomi yang dihasilkan. Teknologi juga diuji dari bagaimana industri menggunakan energi, mengelola air, mengendalikan bahan kimia, serta menangani residu tambang.

AMMAN mencatat penggunaan energi terbarukan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pemanfaatan energi terbarukan naik dari 2.329.422 gigajoule pada 2023 menjadi 3.720.885 gigajoule pada 2025, atau meningkat sekitar 60 persen dalam dua tahun.
Pada 2025, intensitas energi perusahaan tercatat sebesar 50,5 gigajoule per ton konsentrat.
Dari sisi air, pengambilan air AMMAN pada 2025 tercatat sebesar 275.179 ribu meter kubik, turun dibandingkan 300.805 ribu meter kubik pada 2024. Perusahaan juga mencatat bahwa 99 persen kebutuhan air tambang pada 2025 berasal dari sumber bukan air tawar.
Namun, perubahan angka tersebut perlu dibaca secara menyeluruh. Penurunan penggunaan air tidak dapat langsung disimpulkan hanya sebagai dampak digitalisasi atau teknologi baru, karena volume material yang ditambang dan bijih yang diolah pada 2025 juga mengalami penurunan.
Karena itu, evaluasi teknologi pengolahan ke depan perlu melihat indikator yang lebih spesifik, seperti intensitas penggunaan reagen, konsumsi air dan energi per ton bijih maupun per ton konsentrat, serta data karakteristik tailing dan hasil pemantauan kualitas lingkungan.
Dalam pengelolaan tailing, AMMAN menerapkan Deep Sea Tailing Placement (DSTP).
Dalam sistem tersebut, slurry tailing terlebih dahulu dialirkan menuju tangki de-aerator untuk mengurangi gelembung udara sebelum masuk ke pipa bawah laut. Mekanisme tersebut bertujuan agar material memiliki massa jenis lebih besar dibandingkan air laut sehingga dapat mengendap pada lapisan yang lebih dalam.
AMMAN menyebut penerapan DSTP didukung oleh kajian hidrodinamika laut, sedimentasi, serta pemantauan kualitas lingkungan secara berkelanjutan. Pada 2025, total limbah mineral dan non-mineral tercatat sebesar 275,18 juta ton, turun dari 329,21 juta ton pada 2024.
Namun, perubahan jumlah limbah tersebut juga perlu dikaitkan dengan penurunan volume material yang ditambang dan bijih yang diolah, bukan hanya dianggap sebagai hasil dari inovasi pengelolaan limbah.
Di sisi pemulihan lahan, luas reklamasi meningkat dari:
-
55,02 hektare pada 2023
-
79,57 hektare pada 2024
-
92,67 hektare pada 2025
Pada 2026, AMMAN memperoleh predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa pengembangan industri harus terbuka terhadap teknologi yang lebih baik dan lebih efisien.
“Kalau hari ini terjadi perkembangan teknologi, kita bisa mendapat teknologi yang lebih bagus, teknologi yang lebih murah, menghasilkan sesuatu yang lebih untung bagi rakyat, kita harus berani mengubah rencana,” kata Prabowo saat groundbreaking proyek hilirisasi nasional tahap II di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: Kemenperin Buka Penghargaan Industri Hijau 2026, Tiga Kategori Disiapkan
Prabowo juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan berbasis perhitungan.
“Kaji terus teknologi, lihat. Matematis, matematis, matematis. Tidak ada kepentingan lain. Yang paling efisien, menguntungkan rakyat, itu yang harus dijalankan,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Dalam konteks Batu Hijau, teknologi tidak cukup dinilai hanya dari peningkatan recovery. Ukuran keberhasilan juga harus terlihat dari bagaimana perusahaan mengelola penggunaan energi, air, bahan kimia, tailing, dan dampak lingkungan secara terukur.
Pengetahuan yang Tinggal di Sumbawa
Pada akhirnya, nilai dari industri mineral tidak hanya berada pada jumlah produksi logam yang dihasilkan. Nilai tersebut juga ditentukan oleh kemampuan manusia yang menjalankan teknologi, mengembangkan pengetahuan, dan membangun kapasitas daerah.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: