Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sisa Kuota Tak Boleh Hangus, Operator Seluler Bakal Ubah Model Bisnis

Sisa Kuota Tak Boleh Hangus, Operator Seluler Bakal Ubah Model Bisnis Kredit Foto: Unsplash/Nasik Lababan

Model Bisnis Operator Berpotensi Berubah

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, mengatakan operator selama ini memiliki alasan efisiensi ketika menjual kuota dan masa aktif secara bundling.

Jika kedua komponen tersebut harus diberikan dengan pilihan yang lebih fleksibel, biaya yang dikeluarkan operator untuk masing-masing layanan berpotensi meningkat. Kondisi itu pada akhirnya dapat memengaruhi harga produk.

“Dengan daya beli yang tengah lemah, riskan bagi perusahaan telekomunikasi untuk menaikkan harga jualnya,” ujar Nailul saat dihubungi Warta Ekonomi, Jumat (!1/9/2026).

Menurut dia, operator dapat mengambil langkah yang mirip dengan fenomena shrinkflation, yakni mengurangi volume produk tanpa menurunkan harga secara proporsional.

“Jika tadinya 20 GB yang paling rendah, mungkin akan ada 10 GB, namun harganya tidak setengah dari 20 GB, melainkan lebih tinggi,” katanya.

Dengan skenario tersebut, harga per gigabyte yang dibayarkan pelanggan dapat meningkat meskipun kenaikan harga nominal paket tidak terlalu terlihat.

Namun, Nailul melihat perubahan tersebut juga dapat membuka peluang bagi penyedia layanan broadband untuk memperluas pasar.

Apabila harga efektif layanan seluler menjadi lebih mahal, konsumen dengan kebutuhan data tinggi dapat memiliki insentif lebih besar untuk mempertimbangkan layanan broadband sebagai alternatif.

Sementara itu, Peneliti NEXT Indonesia Center Rezky Reza Pratama, mengatakan perubahan tersebut memang akan berdampak terhadap model bisnis operator, terutama produk yang selama ini mengandalkan masa berlaku.

Namun, menurutnya, operator masih memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian terhadap desain maupun harga paket.

“Perubahan ini memang akan memengaruhi model bisnis operator, terutama produk berbasis masa berlaku. Namun, operator tetap punya ruang untuk mengatur harga dan desain paket,” ujar Reza kepada Warta Ekonomi, Jumat (11/9/2026).

Menurut Reza, dampak terhadap pendapatan operator juga tidak otomatis berarti kehilangan revenue dalam jumlah besar. Besarnya pengaruh akan bergantung pada desain produk dan perilaku pelanggan setelah kebijakan diterapkan.

Operator yang memiliki basis pelanggan prabayar besar dan mengandalkan paket dengan masa berlaku pendek kemungkinan menghadapi kebutuhan penyesuaian lebih besar.

Revenue Operator Tak Otomatis Tergerus

Di sisi lain, Direktur ICT Heru Sutadi menilai terlalu dini untuk menghitung besaran potensi kehilangan pendapatan industri akibat kebijakan tersebut.

Menurutnya, tidak tepat jika sisa kuota yang tidak digunakan pelanggan langsung dianggap sebagai pendapatan tambahan bagi operator.

“Saya kira terlalu dini memberikan angka potensi kehilangan pendapatan industri, bahkan sebenarnya tidak ada kehilangan potensi pendapatan sepeserpun kalau SE Komdigi atau Keputusan MK dijalankan,” ujar Heru.

Menurut Heru, dampak yang lebih mungkin muncul adalah perubahan perilaku pelanggan.

Ketika sisa kuota tetap terlindungi, pelanggan tidak lagi memiliki dorongan untuk membeli paket baru hanya karena masa berlaku paket sebelumnya segera berakhir.

Baca Juga: Aturan Baru Komdigi: Sisa Kuota Internet Jadi Hak Pelanggan dan Tak Boleh Hangus

“Mereka mungkin tidak lagi terburu-buru membeli paket baru karena kuota sebelumnya masih terlindungi,” katanya.

Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi operator dengan basis pelanggan prabayar besar yang sangat bergantung pada frekuensi pembelian paket.

Namun, Heru menekankan dampaknya tidak dapat digeneralisasi karena setiap operator memiliki struktur pelanggan, karakteristik produk, dan strategi bisnis yang berbeda.

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Fajar Sulaiman