- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bahlil Resmikan Proyek Gas JNE#6 dan MAHA, Pasokan Ditargetkan Bertambah 290 MMSCFD
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, Bahlil Lahadalia, meresmikan penerimaan gas Jangkrik North-East-6 (JNE#6) dan fasilitas produksi Lapangan MAHA-South Hub di fasilitas produksi terapung atau Floating Production Unit (FPU) Jangkrik, lepas pantai Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026). Peresmian tersebut mencakup tambahan pasokan gas sekitar 290 juta kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD) dari pengembangan sumur JNE#6 dan Lapangan MAHA.
Untuk diketahui, Proyek JNE#6 dan pengembangan Lapangan MAHA-South Hub berada dalam pengelolaan Searah, perusahaan patungan antara perusahaan energi asal Italia, Eni, dan perusahaan energi asal Malaysia, Petroliam Nasional Berhad (Petronas).
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, atas seizin Bapak Presiden dan seluruh hadirin yang ada, bertempat di tengah laut di atas 12 mil dari daratan, saya meresmikan operasional daripada sumur gas Jangkrik dan fasilitas produksi Lapangan MAHA-South Hub yang akan mencapai kurang lebih sekitar 290 MM,” ujar Bahlil yang juga menjabat sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi.
Bahlil menjelaskan, tambahan pasokan tersebut berasal dari sumur JNE#6 sebesar 60 MMSCFD serta pengembangan Lapangan MAHA yang ditargetkan menambah produksi 230 MMSCFD dari dua sumur. Tambahan produksi MAHA tersebut ditargetkan mulai mengalir pada akhir Oktober 2026.
Bahlil mengatakan pengembangan lapangan gas ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Dia menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus memprioritaskan kebutuhan dalam negeri sebelum dialokasikan untuk ekspor.
“Arahnya sudah jelas, sumber daya alam kita akan pakai untuk kepentingan domestik terlebih dahulu. Ini survival mode,” kata Bahlil.
Dia juga meminta SKK Migas dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi mempercepat proses perizinan serta penyelesaian kontrak agar lapangan migas yang telah ditemukan dapat segera berproduksi.
“Karena cadangan yang besar itu tidak akan mempunyai arti apa-apa kalau tidak mampu kita melakukan produksi. Kata kunci dari sebuah proses eksplorasi, konstruksi, itulah kapan produksinya,” ujarnya.
Selain peningkatan produksi gas, Bahlil menyampaikan rencana pembangunan pusat hilirisasi petrokimia di Kalimantan Timur dengan memanfaatkan gas bumi sebagai bahan baku. Menurut dia, pengembangan industri di daerah dapat mendorong penciptaan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
“Dengan kita menciptakan hilirisasi di daerah, itu berarti menciptakan lapangan pekerjaan di daerah, menciptakan nilai tambah di daerah, meningkatkan PNBP daerah, meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan daerah, sekaligus kita harus menjadikan daerah menjadi tuan di negerinya sendiri,” lanjutnya.
Bahlil juga meminta perusahaan operator memaksimalkan transfer teknologi dan pengetahuan kepada tenaga kerja Indonesia, terutama dalam pengoperasian fasilitas migas yang menggunakan teknologi tinggi.
“Saya mengharapkan kepada manajemen perusahaan, terutama Saudara saya Pak Mirko, agar transfer teknologi, transfer knowledge kepada anak-anak di Indonesia itu dilakukan secara maksimal,” kata Bahlil.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Searah Muara Bakau Mirko Araldi mengatakan FPU Jangkrik telah menjadi bagian penting dari operasi perusahaan di lepas pantai Indonesia selama sembilan tahun. Sejak Lapangan Jangkrik mulai berproduksi pada 2017, fasilitas tersebut juga mendukung pengembangan Merakes pada 2021, Merakes East pada 2025, dan kini pengembangan JNE#6.
“FPU Jangkrik telah menjadi bagian yang sangat penting dalam operasi kami. Kami juga bangga karena fasilitas ini sepenuhnya dioperasikan oleh tenaga kerja Indonesia,” jelas Mirko.
Mirko menjelaskan, sumur JNE#6 telah menghasilkan tambahan gas sebesar 60 MMSCFD sejak mulai mengalir pada 9 Oktober 2026. Pengembangan sumur tersebut, menurut dia, juga mencatatkan pencapaian teknis dalam pengeboran migas di Indonesia.
“Sumur-sumur ini mencatatkan rekor baru di Indonesia melalui penerapan teknologi cased-hole gravel pack terpanjang pada sumur dengan kemiringan tinggi, yakni 79 derajat. Hal ini juga menunjukkan kemampuan operasional kami dalam memanfaatkan fasilitas yang sudah ada,” kata Mirko.
Dia melanjutkan, perusahaan menargetkan tambahan pasokan gas sebesar 230 MMSCFD dari dua sumur Lapangan MAHA pada akhir Oktober 2026. Tambahan tersebut akan meningkatkan produksi yang ditangani FPU Jangkrik hingga kapasitas maksimum fasilitas sebesar 750 MMSCFD.
“Pada akhir Oktober, atau sekitar 10 hari lagi, kami memperkirakan tambahan gas sebesar 230 MMSCFD dari dua sumur akan mulai mengalir. Tambahan ini akan meningkatkan produksi FPU Jangkrik hingga maksimum 750 MMSCFD, sesuai kapasitas fasilitas tersebut,” sambungnya.
Lapangan MAHA berada di Wilayah Kerja West Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur. Berdasarkan materi proyek, pengembangannya mencakup dua sumur, yakni Maha-3 dan Maha-4, dengan nilai investasi sekitar US$841 juta serta potensi cadangan gas sebesar 438 miliar kaki kubik standar atau billion standard cubic feet (BSCF).
Pengembangan MAHA memanfaatkan infrastruktur produksi yang telah tersedia di FPU Jangkrik. Melalui sistem koneksi bawah laut atau subsea tie-back, gas dari sumur-sumur tersebut akan dialirkan ke fasilitas yang sudah beroperasi untuk diproses dan disalurkan.
Selain MAHA, Mirko menyampaikan bahwa FPU Jangkrik juga akan menerima tambahan gas dari pengembangan Lapangan Gendalo dan Gandang. Proyek yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 tersebut akan menggunakan sistem koneksi bawah laut menuju FPU Jangkrik.
Baca Juga: Pesan Prabowo ke Bahlil: Kerja Cepat, Jangan Lambat dan Tak Langgar Aturan!
Baca Juga: Isu Kenaikan Harga BBM Subsidi Tahun 2027 Bikin Resah, Bahlil Akhirnya Buka Suara!
“FPU Jangkrik juga akan menerima tambahan gas dari salah satu proyek besar kami, yaitu pengembangan Lapangan Gendalo dan Gandang, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028,” kata Mirko.
Dia menjelaskan, pengembangan Gendalo dan Gandang mencakup tujuh sumur, terdiri atas lima sumur di Lapangan Gendalo dan dua sumur di Lapangan Gandang. Proyek tersebut dirancang untuk mempertahankan produksi South Hub pada tingkat sekitar 750 MMSCFD, dengan produksi kondensat sekitar 10.000 barel per hari.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra