Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah 76 poin atau 0,45% di level Rp17.001 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026).
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang meningkatkan kekhawatiran investor
Dari sisi eksternal, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama. Hal ini seiring dengan pergantian kepemimpinan di Iran yang disebut memperkuat kekhawatiran pasar setelah sosok pemimpin baru yang menggantikan Ruhollah Khomeini, yakni Mojtaba Khamenei, dinilai memiliki garis politik yang keras dan fundamentalis
"Jadi ini sudah ada pergantian kepemimpinan di Iran yang kita lihat bahwa pemimpin yang baru ini pun juga adalah pemimpin yang fundamentalis Islam. Sehingga apa? Sehingga kemungkinan besar dalam 6 bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan," jelas Ibrahim kepada wartawan.
Situasi tersebut semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan keras terkait kemungkinan perubahan rezim di Iran.
"Bahkan Trump mengatakan akan memusnahkan, akan mengganti rejim yang ada di Iran," imbuh dia.
Ketegangan geopolitik ini, kata Ibrahim, berdampak langsung pada jalur distribusi energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen seperti Uni Emirat Arab, Irak, dan Arab Saudi. Gangguan pada jalur ini menyebabkan beberapa negara mengurangi produksi minyak.
"Membuat harga minyak mentah dunia, baik yang crude oil maupun grain, ini pun juga melonjak tinggi," terang dia.
Menurut Ibrahim kenaikan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Sejarah menunjukkan lonjakan harga minyak sering diikuti perlambatan ekonomi, seperti yang terjadi setelah konflik Irak pada 2008 yang memicu krisis ekonomi global.
"Kita kembali di tahun 2008 di mana perang Amerika, pesekutu dan Irak di mana setelah perang terjadi krisis ekonomi yang cukup luar biasa. Ini dari segi eksternal," terang dia.
Dari sisi domestik, lanjut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa harga BBM masih dapat dijaga stabil dalam 20 hari ke depan selama harga minyak berada di kisaran normal sekitar US$92 per barel.
"Tetapi kalau seandainya harga di atas US$92, itu adalah itu harga yang paling normal. Pemerintah masih bisa melakukan antisipasi," terang dia.
Baca Juga: Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per USD di Tengah Ketegangan Global dan Tekanan Fiskal
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.892 Usai Fitch Revisi Outlook Utang RI Jadi Negatif
Baca Juga: Perang AS–Iran, Rupiah Tertekan Lonjakan Harga Minyak
Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi dinamika politik dalam negeri, termasuk pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah ulama yang membahas berbagai isu geopolitik, termasuk sikap Indonesia terhadap konflik Palestina.
"Para ulama menginginkan bahwa kalau seandainya diinginkan bahwa Indonesia keluar dari BOP. Nah keluar dari BOP ini yang kemungkinan besar akan dilakukan oleh Prabowo apabila tidak sesuai dengan keinginan dari pemerintah Indonesia tentang masalah Palestina," pungkas Ibrahim.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: