Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Damai dengan Iran, Netanyahu Justru Bergerak di Belakang Layar

Trump Damai dengan Iran, Netanyahu Justru Bergerak di Belakang Layar Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesepakatan damai yang baru saja diteken Amerika Serikat dan Iran ternyata belum sepenuhnya diterima oleh sekutu terdekat Washington di Timur Tengah. Di saat Presiden AS Donald Trump mengklaim berhasil mengakhiri perang dan membuka jalan menuju stabilitas kawasan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mulai mengambil posisi berbeda.

Laporan terbaru menyebut Netanyahu telah menyampaikan langsung kepada Trump bahwa Israel tidak merasa terikat oleh nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati antara Washington dan Teheran.

Informasi tersebut diungkap seorang pejabat Israel kepada CNN dan kemudian dilaporkan kembali oleh sejumlah media internasional.

Menurut pejabat itu, Netanyahu tidak hanya meragukan efektivitas kesepakatan, tetapi juga meyakini bahwa perjanjian final terkait program nuklir Iran pada akhirnya tidak akan pernah tercapai.

Sikap tersebut menjadi sorotan karena muncul hanya beberapa hari setelah Trump mengumumkan keberhasilan diplomatik yang disebutnya mampu mengakhiri perang secara permanen.

MoU yang diteken secara jarak jauh oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026) menjadi fondasi awal bagi proses negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan.

Kesepakatan itu mencakup penghentian konflik di berbagai front, termasuk Lebanon, pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz, pencabutan sejumlah sanksi terhadap Iran, hingga rencana rekonstruksi ekonomi bernilai ratusan miliar dolar AS.

Namun di balik optimisme tersebut, Netanyahu justru disebut sedang berupaya memengaruhi arah pembahasan lanjutan yang akan menentukan masa depan kesepakatan AS-Iran.

Pejabat Israel yang berbicara kepada CNN mengatakan Netanyahu berusaha membentuk isi perjanjian akhir dengan memanfaatkan jaringan politik dan media yang dekat dengannya di Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, tokoh-tokoh media sayap kanan dan sejumlah senator AS yang memiliki hubungan dekat dengan Netanyahu disebut digunakan untuk memberikan tekanan politik kepada Trump selama proses negosiasi berlangsung.

Langkah itu menunjukkan bahwa pertarungan diplomatik belum benar-benar berakhir meskipun perang telah dihentikan melalui kesepakatan awal.

Netanyahu disebut tetap meyakini Iran tidak akan bersedia menerima pembatasan yang signifikan terhadap program nuklirnya.

Pandangan itu membuat pemerintah Israel memandang proses negosiasi yang sedang berjalan dengan tingkat skeptisisme yang tinggi.

Perbedaan cara pandang antara Trump dan Netanyahu menjadi perhatian karena selama bertahun-tahun keduanya dikenal memiliki hubungan politik yang sangat dekat.

Trump selama ini dikenal sebagai salah satu presiden AS yang paling mendukung kepentingan Israel, termasuk dalam berbagai kebijakan strategis di Timur Tengah.

Karena itu, munculnya laporan mengenai ketidaksepakatan terhadap MoU AS-Iran memunculkan pertanyaan baru mengenai seberapa solid posisi kedua sekutu tersebut dalam menghadapi Iran.

Sinyal perbedaan sikap itu juga terlihat dari situasi di lapangan.

Meski MoU menyebut penghentian perang di seluruh front, termasuk Lebanon, Israel dilaporkan masih melanjutkan operasi militernya dengan alasan menargetkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Baca Juga: Operasi Escobar Berhasil! Pengendali Aliran Uang Gembong Kakap Fredy Pratama Diringkus di Malaysia

Serangan drone Israel di wilayah Lebanon selatan bahkan dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai satu lainnya pada Kamis (18/6/2026).

Hingga kini kantor Perdana Menteri Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan yang menyebut Netanyahu tidak merasa terikat oleh kesepakatan AS-Iran.

Namun munculnya laporan tersebut menunjukkan bahwa jalan menuju perjanjian final mungkin tidak akan semulus yang dibayangkan Trump saat mengumumkan berakhirnya perang.

Jika benar Netanyahu terus berupaya memengaruhi proses negosiasi dari belakang layar, maka ujian terbesar kesepakatan AS-Iran justru bisa datang dari dalam kubu sekutu Amerika sendiri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama